Tampilkan postingan dengan label Islam dan Akhlaq Mulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam dan Akhlaq Mulia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2014

Bersyukurlah!

Bapak penjual jagung ‘godhok’. (Sriyono bin Nasiri)

Bersyukurlah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Berapa banyak manusia yang merasa gersang dan kekurangan padahal Allah telah mencukupkannya. Lihatlah di sekitarmu, bandingkan keberlimpahan materi yang kau dapat dibanding mereka. Lihatlah kepada penjual asongan yang merintih gelisah karena belum ada satupun barang dagangan yang disambar pelanggannya. Seperti bapak penjual jagung rebus yang saya temui di hari senin sore itu.

Sore itu, saya pergi ke kota Salatiga. Ada seorang kawan yang menitipkan sebuah fotokopian. Maksud hati hendak mengambil sebuah buku hasil foto kopi, tetapi karena mengularnya orderan pelanggan, saya maklum kalau pesanan saya belum jadi. Melihat raut muka petugas foto kopi yang kusut karena sedari pagi melayani pelanggan, memencet-mencet tombol serta membuka tutup besarnya mesin fotokopi. Dengan halusnya mengatakan kepada saya, “Maaf mas, belum jadi. Mungkin nanti ba’da Isya’ baru selesai.” Seperti perdugaan saya awal tadi. Tidak tahu kenapa perasaan ikhlas yang saya terima. Memeras otak apa yang akan saya lakukan 3 jam menunggu penantian sebuah buku yang sedang ngoyo diselesaikan.

Akhirnya, saya putuskan untuk menikmati suasana sore kota Salatiga dengan mengitari jalan-jalan utama. Terasa sebentar hanya 30 menit perjalan dari ujung ke ujung. Kuparkirkan motor kesayanganku di pinggir majid kampus Islam yang terkenal di kota itu. Sekitar 3 meter menyeberang jalan, terdapat alun-alun kota yang ramai untuk muda-mudi berkumpul atau masyarakat kota yang sekedar melepas penat menghadapi hiruk-pikuk pekerjaannya.

Saya semangat untuk berjalan satu putaran di alun-alun yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama Lapangan Pancasila. Kunikmati keterasinganku ditemani muda-mudi yang bercengkrama dengan teman-temannya. Memotret ornamen-ornamen yang menghiasi pinggir lapangan. Sesaat, di sebelah selatan dengan langkah yang berat seorang bapak yang sedang berjuang keras membanting tulang untuk menyambung hidup keluarga. Bapak itu bapak penjual jagung rebus yang tertati-tati mendorong gerobaknya di pinggir saya yang sedang berjalan. Mencoba menawarkan dan kubalas dengan halus, “Terima kasih, Bapak”

Tanpa merasa tersinggung, bapak itu mendorong sekuat tenaga sembari menawarkan ke pelanggan lain. Hanya ada satu anak kecil yang memanggil dan menjajakan uangnya. Sampailah bapak itu di pojok barat lapangan, kemudian diparkir dan sandarkan gerobak beratnya itu. Saya mencoba mengamati dari pinggir sekitar 2 meter sembari duduk di samping sebelah selatannya. Mengamati ramainya lapangan dan sesekali menoleh ke bapak itu dan kurasa dia mulai gelisah karena setengah jam berlalu tak satupun pelanggan menghampiri untuk membeli. Mungkin dalam lubuk hatinya berkata, “Bagaimana dengan nasib anak-anakku esok? Ya Allah, taburkan sedikit rezeki.”

Entah apa yang ada dalam pikiran saya. Antara sedih dan bersyukur. Sedih karena melihat kegundahan hati bapak itu, di lain sisi besyukur karena allah telah menganugerahkan rezeki yang selama ini jarang saya syukuri. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang selalu bersyukur. Aamiin!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/20/51541/bersyukurlah/#ixzz32JKebEUD

66 Tahun Nakba Palestina: Duka Itu Masih Menganga

ilustrasi 66 Tahun Peristiwa Nakba (Mohammed Hassona)

15 Mei 1948 diperingati sebagai peristiwa Nakba. Banyak orang yang bersimpati terhadap permasalahan Palestina, namun tak banyak yang mengetahui tentang tragedi Nakba. Nakba adalah terminologi Arab yang berarti musibah, bencana atau malapetaka. Bangsa Palestina mengenangnya sebagai momentum dan tonggak memilukan bagi perjalanan sebuah bangsa merdeka yang kini hidup di bawah kungkungan penjajahan Zionis Israel.

Sejak Deklarasi Balfour 1917 yang diajukan negarawan Inggris konservatif Arthur Balfour, jalan menuju berdirinya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi semakin menemukan titik terang, meski harus dibangun di atas derita bangsa Palestina. Inggris yang sejak tahun 1918 – 1948 memegang mandat (baca: menjajah) terhadap wilayah Palestina turut andil melapangkan jalan bagi Zionis Yahudi untuk mewujudkan misi besar mereka; mendirikan negara Israel di Palestina. Mimpi besar yang bahkan sudah dipropagandakan oleh pendiri gerakan Zionis, Theodor Herzl sejak tahun 1896 yang dia tulis dalam bukunya Der Judenstaat atau artinya “Negara Yahudi”, atau jauh sebelum itu ketika Napoleon Bonaparte ingin berkuasa di wilayah negeri para anbiya dan bermimpi menjadikannya tanah air bagi Yahudi.

Peneliti dan sejarawan Palestina, Dr. Muhsin Muhammad Shaleh dalam bukunya mengungkapkan, masa pemerintahan Inggris di Palestina (tahun 1918-1948) telah membuka pintu imigrasi besar-besaran bagi bangsa Yahudi. Populasi orang Yahudi di Palestina menjadi berlipat ganda. Di awal penjajahan Inggris, tahun 1918, populasi Yahudi di Palestina sekitar 55.000, namun di akhir masa penjajahannya terhadap Palestina (tahun 1918) populasi Yahudi meningkat drastis, mencapai 646.000 jiwa. Atau yang tadinya setara 8% menjadi 31% dari total penduduk Palestina (pada saat itu).

Di antara grand strategi Yahudi untuk segera menguasai wilayah Palestina adalah siasat pendudukan. Untuk itu, sejak awal orang-orang Yahudi berusaha untuk dapat menguasai sebanyak mungkin kepemilikan tanah di Palestina. Dalam hal ini, Inggris pun memiliki andil besar. Inggris memberikan kemudahan bagi orang-orang Yahudi untuk membeli tanah, mereka menguasainya dengan berbagai cara. Sesuatu yang dimasa Sultan Abdul Hamid II (Khalifah Ustmani) yang memerintah di Palestina dilarang keras. Maka, kepemilikan tanah orang Yahudi meningkat drastis. Kepemilikan tanah mereka di Palestina antara setengah juta donem (setara dengan 5.000 hektar) atau sekitar 2% dari total luas wilayah Palestina, hingga 700.000 donem (7.000 hektar) atau sekitar 6,3%.

Di bawah perlindungan penuh pasukan keamanan Inggris, Yahudi mampu mendirikan dan membangun infra-struktur dan berbagai lembaga di bidang ekonomi, politik, pendidikan, militer dan sosial. Tahun 1948 mereka telah mendirikan 292 organisasi dan membentuk pasukan militer yang memiliki persenjataan modern seperti Hagana, Urgun, Stern dan lain-lain. Jumlah keseluruhan pasukan ini lebih dari 70.000 personil dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mendeklarasikan negara baru mereka.

Organisasi-organisasi Zionis ini tentu saja tidak sekadar dilatih tempur dan dipersenjatai. Namun pemuda-pemuda Zionis, bahkan pemudi-pemudi mereka kerap kali melakukan aksi-aksi teror terhadap rakyat Palestina, bahkan berujung dengan pembantaian, seperti: pembantaian Haifa (06 Maret 1937), Pembantaian Al-Quds (31 Maret 1937), pembantaian Balad Asy-Syeikh (6 Desember 1939), Pembantaian Babul ‘Amud ( 29 Desember 1947), Pembantaian Ramallah (Maret 1948), Pembantaian Abu Kabir (Maret 1948) dan Pembantaian Deir Yasin (9 April 1948).

Pembantaian-pembantaian di atas hanya sekelumit dari sederet pembantaian yang dilakukan oleh ekstrimis-ekstrimis Yahudi sebelum ‘Negara Zionis Israel’ didirikan pada 15 Mei 1948.

Di perkampungan-perkampungan Palestina lainnya, mereka melakukan aksi teror dan membumi hanguskan rumah-rumah dan fasilitas-fasilitas umum warga. Tercatat, ada lebih dari 500 perkampungan Palestina yang di bumi hanguskan dan dirubah menjadi perkampungan Yahudi. Hal inilah yang menjadikan tragedi kemanusiaan terbesar tahun 1948 di Palestina, dimana lebih dari 750.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka dan mengungsi ke wilayah-wilayah lain seperti Tepi Barat, Jalur Gaza dan beberapa negara tetangga seperti Yordania, Lebanon dan Suriah yang lebih aman dari gangguan ekstrimis-ekstrimis Yahudi.

Dari sini dengan sangat mudah kita mengetahui bahwa tahun 1948 adalah tonggak penjajahan yang sesungguhnya yang dilakukan Zionis Israel terhadap Palestina. Dan penjajahan yang dilakukan Zionis adalah penjajahan paling unik yang pernah ada di muka bumi, penjajahan yang dilakukan terhadap bangsa merdeka dan penduduk asli (Palestina) oleh entitas (Zionis) yang datang mengungsi, tidak memiliki tanah air dan negara.

Di sinilah pentingnya para politisi dan diplomat untuk mencermati peristiwa Nakba ini, bahwa pencaplokan tanah Palestina bukan diawali dari 1967, sehingga mereka harus mendukung solusi dua negara diatas tanah jajahan 1967. Penjajahan terhadap Palestina oleh Zionis (secara formal) justru telah dimulai sejak 1948. Sejak warga Palestina diteror untuk meninggalkan kampung-halaman mereka, sejak bangsa-bangsa bungkam ketika ribuan tubuh-tubuh Palestina meregang nyawa dalam gorokan pisau dan terjangan timah-timah panas dari moncong-moncong senjata para ekstrimis Yahudi. Dan sejak pertama kali ‘Negara Zionis Israel’ yang dideklarasikan tahun 1948 dibangun di atas nestapa bangsa Palestina.

66 tahun, tragedi Nakba telah berlalu. Namun dukanya belum hilang seiring bergantinya hari-hari. Nakba terus merenda nestapa; Jalur Gaza yang sudah lebih dari tujuh tahun diblokade Zionis dan menjadi penjara terbesar di muka bumi; Al Quds yang terus diyahudisasi; Masjid Al Aqsa yang seringkali diserbu oleh para ekstrimis Yahudi; ribuan tahanan Palestina yang masih mendekam diperlakukan tak manusiawi di penjara-penjara Zionis; hampir 70% bangsa Palestina hidup terlunta-lunta sebagai pengungsi, bahkan di atas gejolak sebagian negara Arab, mereka harus mengungsi dari pengungsian. Sungguh duka yang semakin menganga dan derita yang belum kunjung reda. Maka pertanyaannya, masih adakah kepedulian kita untuk mereka?

Sumber: 

Senin, 12 Mei 2014

Farid Nu'man Hasan Waktu Shalat Subuh Adalah Fajar Shadiq Tetapi Menyegerakannya adalah Termasuk Sunnah

Ilustrasi (Republika Online)

Banyak pertanyaan masuk kepada kami, baik sms, email, dan dalam majelis ta’lim. Mereka menanyakan tentang waktu subuh di Indonesia, yang menurut sebagian kecil kalangan terlalu pagi (masih gelap). Sehingga mereka khawatir subuh mereka tidak sah, karena tidak tepat pada waktunya. Ini terjadi lantaran datangnya seorang syaikh dari Timur Tengah yang mempermasalahkan subuh di Indonesia yang terlalu pagi. Lalu murid-muridnya latah ikut-ikutan menyalahkan. Padahal sudah puluhan bahkan ratusan syaikh Timur Tengah, dan mereka juga ulama, datang ke Indonesia sudah sejak puluhan tahun lalu, tetapi tidak mempermasalahkannya. Kenapa baru tahun-tahun belakangan dipermasalahkan?

Kita mengetahui bahwa Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya. Waktu-waktu itu, sudah diterangkan secara rinci dalam as-Sunah, dan diisyaratkan pula dalam al-Qur’an.

Tak terkecuali Shalat Subuh. Shalat Subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq (langit sudah mulai agak terang di ufuk secara merata) hingga terbitnya matahari. Hal ini berdasarkan hadits Jibril ‘Alaihissalam berikut (haditsnya cukup panjang, saya kutip bagian waktu Shalat Subuh saja),

ثُمَّ جَاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فصل فصلى العشاءفَصَلَّى الصُّبْحَ

“Kemudian dia (Jibril) mendatanginya untuk Shalat Subuh ketika langit terang, lalu dia berkata, ‘Bangunlah dan shalatlah!’ maka Beliau (Rasulullah) melaksanakan Shalat Subuh.” (HR. An Nasa’i No. 526 , Ahmad No. 14011, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 526)

Dalam hadits ini disebutkan, “Hiina Asfara Jiddan” (ketika langit benar-benar menguning). Maksudnya ketika langit benar-benar terang. Inilah yang disebut dengan fajar shadiq dan inilah dimulainya waktu Subuh. Tetapi disukai untuk menyegerakannya.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

بتدئ الصبح من طلوع الفجر الصادق ويستمر إلى طلوع الشمس، كما تقدم في الحديث.

استحباب المبادرة لها

“Shalat subuh dimulai dari terbitnya fajar shadiq dan terus berlangsung hingga terbit matahari, sebagaimana yang telah lalu dijelaskan dalam hadits. Dan disukai untuk menyegerakannya.” . (Fiqhus Sunnah, 1/104. Darul Kitab al-‘Arabi)

Disunahkan untuk disegerakan, yakni ketika masih gelap berdasarkan riwayat shahih berikut,

Dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya,

وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلَاتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

“Dan Beliau (Rasulullah) Shalat Subuh di saat gelap pada akhir malam. Kemudian beliau shalat pada kesempatan lain ketika mulai terang. Kemudian setelah itu shalat beliau dilakukan saat gelap dan itu dilakukannya sampai wafat. Beliau tidak lagi melakukannya di waktu hari telah terang.” (HR. Abu Daud No. 394, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 394, diriwayatkan juga oleh Jabir dengan sanad shahih, Abu hurairah dengan sanad hasan, dan Abdullah bin Amr bin al-‘Ash dengan sanad hasan)

Ada pihak yang menyalah-nyalahkan Shalat Subuh ketika masih gelap. Padahal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga wafatnya. Hal itu itu merupakan mayoritas dilakukan di negeri-negeri muslim, pendapat sebagian sahabat, seperti Umar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Zubeir, Abu Musa, Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud, penduduk Hijaz, dan dikalangan imam kaum muslimin seperti Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza’I, Daud, dan Abu Ja’far Ath Thabari.

Sayangnya dengan ringan kenyataan ini dikatakan oleh mereka sebagai pendapat yang keliru! Namun demikian, kami tidak menyalahkan mereka. Karena pendapat yang mengatakan bahwa ketika terang adalah lebih utama adalah pendapat sebagian salaf dan fuqaha, seperti Ali, Ibnu Mas’ud, Abu Hanifah dan sahabatnya, Sufyan Ats Tsauri, dan mayoritas penduduk Iraq . Tetapi, sikap mereka yang menyalah-nyalahkan yang lain –padahal begitu kuat dalilnya- adalah sikap melampaui batas dan tidak mengetahui etika khilaf fiqih di antara ulama. Dan, ini sungguh mengherankan!

Hadits di atas jelas-jelas menyebutkan Rasulullah Shalat subuh saat ghalas. Apakah ghalas? Ghalas adalah akhir kegelapan malam. Imam Ibnul Atsir mengatakan ghalas adalah kegelapan malam bagian akhir ketika akan bercampur dengan terangnya pagi. (‘Aunul Ma’bud, 2/45. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Perhatikan ucapan Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah ketika mensyarah hadits di atas:

وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى اِسْتِحْبَاب التَّغْلِيس وَأَنَّهُ أَفْضَل مِنْ الْإِسْفَار وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمَا لَازَمَهُ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مَاتَ ، وَبِذَلِكَ اِحْتَجَّ مَنْ قَالَ بِاسْتِحْبَابِ التَّغْلِيس . وَقَدْ اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي ذَلِكَ فَذَهَبَ مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَأَبُو ثَوْر وَالْأَوْزَاعِيُّ وَدَاوُدُ وَأَبُو جَعْفَر الطَّبَرِيُّ وَهُوَ الْمَرْوِيّ عَنْ عُمَر وَعُثْمَان وَابْن الزُّبَيْر وَأَنَس وَأَبِي مُوسَى وَأَبِي هُرَيْرَة إِلَى أَنَّ التَّغْلِيس أَفْضَل وَأَنَّ الْإِسْفَار غَيْر مَنْدُوب ، وَحَكَى هَذَا الْقَوْل الْحَازِمِيُّ عَنْ بَقِيَّة الْخُلَفَاء الْأَرْبَعَة وَابْن مَسْعُود وَأَبِي مَسْعُود الْأَنْصَارِيّ وَأَهْل الْحِجَاز ، وَاحْتَجُّوا بِالْأَحَادِيثِ الْمَذْكُورَة فِي هَذَا الْبَاب وَغَيْرهَا ، وَلِتَصْرِيحِ أَبِي مَسْعُود فِي هَذَا الْحَدِيث بِأَنَّهَا كَانَتْ صَلَاة النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّغْلِيس حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى الْإِسْفَار . وَقَدْ حَقَّقَ شَيْخنَا الْعَلَّامَة السَّيِّد مُحَمَّد نَذِير حُسَيْن الْمُحَدِّث هَذِهِ الْمَسْأَلَة فِي كِتَابه مِعْيَار الْحَقّ : وَرَجَّحَ التَّغْلِيس عَلَى الْإِسْفَار وَهُوَ كَمَا قَالَ . وَذَهَبَ الْكُوفِيُّونَ أَبُو حَنِيفَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُ وَأَصْحَابه وَالثَّوْرِيُّ وَالْحَسَن بْن حَيّ ، وَأَكْثَر الْعِرَاقِيِّينَ وَهُوَ مَرْوِيّ عَنْ عَلِيّ وَابْن مَسْعُود إِلَى أَنَّ الْإِسْفَار أَفْضَل .

“Hadits ini menunjukkan bahwa disunahkannya (Shalat Subuh) pada saat gelap. Ini lebih afdhal dibanding ketika terang. Seandainya tidak demikian, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merutinkannya hingga beliau wafat? Dan dengan inilah hujjah orang-orang yang mengatakan disukainya waktu gelap (akhir malam). Para ulama telah berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, al-Auza’i, Daud, Abu Ja’far ath-Thabari, dan pendapat ini juga diriwayatkan dari Umar, Utsman, Ibnu Zubeir, Anas, Abu Musa al-Asy’ari, dan Abu Hurairah, bahwa ketika gelap adalah lebih utama. Sedangkan ketika terang tidaklah dianjurkan (ghairu mandub). Secara kuat disebutkan bahwa ini juga pendapat Khulafa’ur Rasyidin lainnya, juga Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud al-Anshari, dan penduduk Hijaz. Mereka berhujjah dengan hadits-hadits yang telah disebutkan dalam masalah ini dan hadits lainnya. Dan juga penjelasan Abu Mas’ud dalam hadits ini bahwa shalatnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dalam keadaan gelap (at-Taghlis) dilakukannya sampai beliau wafat, dan dia tidak lagi melakukan dalam keadaan terang. Syaikh kami al-‘Allamah as-Sayyid Muhammad Nadzir Husain telah meneliti masalah ini dalam kitabnya, Mi’yar Al Haq: Bahwa beliau menguatkan shalat ketika gelap dibanding terang, dan pendapat itu sebagaimana yang dikatakan. Adapun kalangan Kuffiyyin (penduduk kufah), seperti Abu Hanifah dan para sahabatnya, ats-Tsauri, al-Hasan bin Hay, kebanyakan penduduk Iraq, dan itu juga diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas’ud, bahwa shalat ketika terang adalah lebih utama.” (‘Aunul Ma’bud, 2/45. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

وإنما فعله في بعض الأحيان لبيان الجواز ولبيان أن ذلك سائغ، ولكن الذي داوم عليه والمعروف من فعله صلى الله عليه وسلم أنه كان يصليها بغلس.

“Sesungguhnya perbuatan Nabi pada sebagian waktu (melakukan saat terang) sebagai penjelas kebolehannya dan menjelaskan bahwa hal itu mudah, tetapi yang menjadi rutinitasnya dan diketahui sebagai perbuatannya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah bahwa beliau Shalat Subuh pada saat masih gelap.” (Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Daud No. 60. Maktabah Misykah)

Demikian. Wallahu A’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/05/50793/waktu-shalat-subuh-adalah-fajar-shadiq-tetapi-menyegerakannya-adalah-termasuk-sunnah/#ixzz31bg2OQ62

Lahir Sebagai Yahudi, Hidayah Membawanya Kepada Islam

Cahaya Islam (ilustrasi) - (Foto: baltyra.com)

Musa Caplan lahir dan besar dalam tradisi Yahudi, Ia dan keluarganya rutin mengunjungi sinagog. Ia pun bersekolah di sebuah sekolah Yahudi Ortodoks.

“Saya hidup dengan keberagaman yang terbatas,” kenang dia seperti dilansir onislam.net, Rabu (30/4).

Meski berada dalam lingkaran tradisi Yudaisme, Musa menaruh minat mempelajari agama-agama lain. Ini yang selanjutnya mendorong Musa berinteraksi dengan umat agama lain, salah satunya penganut Islam.

“Saya percaya, semua agama itu sama, karena pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama yakni Allah,” kata dia.

Dari interaksi tersebut, ia mulai tahu banyak tentang Islam. Ia percaya Islam adalah agama yang mengedepankan perdamaian. Memang, Musa tidak bisa menghindari stereotip negatif tentang Islam. Beruntung baginya, interaksi dengan Muslim membuatnya memiliki perspektif baru.

“Disinilah, Allah mulai menaruh rencana pada hidup saya,” kata dia.

Musa sulit mempercayai mengapa Islam sebagai agama damai bisa melahirkan terorisme. Padahal agama ini belum tentu mengajarkan umatnya untuk membunuh orang tak bersalah. “Rasulullah adalah pejuang, ia tidak membunuh orang tidak berdosa, ia taruh rasa hormat, perdamaian dan toleransi,” kata dia.

Menyadari Islam bukanlah agama yang mengajari umatnya sikap kebencian, Musa mulai tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya. Salah satu sumber yang menjadi acuannya adalah kitab Perjanjian Lama dan Alquran. Saat membandingkan keduanya, Musa melihat Alquran memiliki sumber informasi akurat tentang asal mula kehidupan, hal yang bisa dikonfirmasi melalui ilmu pengetahuan.

“Sementara, perjanjian lama telah berubah selama bertahun-tahun,” kata dia. Ambil satu contoh, ucapnya, Alquran memaparkan bagaimana gunung-gunung terbentuk hingga tercipta lapisan atmosfer. Informasi ini sudah ada di Alquran, jauh sebelum ilmu pengetahuan memahami itu.

Semakin mendalami Alquran, Musa kian kagum. Mulailah ia pada satu persimpangan dimana akal dan pikirannya mengerucut pada satu keinginan, yakni menjadi Muslim. Musa menyadari keputusan itu tidaklah mudah. Orang tua dan kerabatnya tentu tidak akan menerima keputusannya itu.

“Untuk saat itu, saya tidak menjalani kehidupan yang Islami sepenuhnya. Namun, berkat Allah, saya bisa melaksanakan shalat lima waktu, saya bisa mempelajari Islam secara online, dan setidaknya saya bisa secara terbuka mengakui keesaan Allah,” kata dia.

Memang tidak mudah bagi Musa menjalankan imannya itu. Ambil contoh saja, ia merasa prihatin dengan nasib bangsa Palestina. Secara pribadi, ia sangat mendukung kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel, Namun, keluarganya justru melihat Palestina adalah tanah milik bangsa Yahudi.

“Jujur saya mudah tersinggung soal itu,” kata dia.

Di luar kesulitannya, Musa meyakini keterbatasan yang dimilikinya saat ini tidak menghalangi niatanya mengakui Islam sebagai agama yang dipilih Allah untuknya. Memang, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersyahadat dihadapan umat Islam, tapi ia sudah melakukannya dihadapan Allah..

“Insya Allah, yang penting dari hal ini adalah, saya sudah berniat untuk mengunjungi masjid, tidak terlibat narkoba, mengkonsumsi alkohol dan mencuri. Tidak mudah memang, tapi Insya Allah,” kata dia.

Sumber:  

Jumat, 02 Mei 2014

Cinta Bersujud di Mihrab Taat | Salim A. Fillah


Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini;

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah

Sumber: http://www.pkspiyungan.org/2014/05/cinta-bersujud-di-mihrab-taat-salim.html

Mendung Menyelimuti Agam

 Ilustrasi. (kristogun.deviantart.com)
Kabut menyelinap dalam keheningan pagi, menyelimuti hamparan hijau tanaman padi yang kian memudarkan pandang. Daun-daun runcing tipis itu bergoyang pasrah dimainkan semilir angin pagi, menumpahkan sisa-sisa bening embun yang hinggap semalaman, mengalir tumpah-ruah dalam sela-sela batang padi. Bercampurlah dengan berpuluh-puluh liter air yang mendiami persawahan itu.

Pagi, benar-benar menghebuskan udara yang amat-sangat membuat badan menggigil. Agam, hampir tidak kuasa menahan tusukan angin pada tubuhnya yang munggil, dengan gelagat ayunan langkah berat. Agam menyelusuri jalan setapak itu menuju kesekolahnya, tidak ada kendaraan untuk ia tumpangi, semuanya sepi, sesepi hatinya selama ini.

Ah… Jarak tempuh dua kilometer itu, bahkan tidak pernah menyurutkan semangat langkahku. Demi untuk megenal dengan si Budi. Jalanan berkerikil ditumbuhi rerumputan kecil, berlubang penuh dengan genangan keruh air, sekeruh hatiku kini. Terkadang, tumpukan kotoran kerbau yang berserakan, bukal jadi soal. Saban hari aku jejali jalan itu dengan berjalan kaki.

Entah mengapa, di sekolah tidak begitu bergairah. Padahal sebelum pergi, aku selalu berusaha menyempatkan diri untuk sarapan. Dan memang, akhir-akhir ini lebih banyak diam, persis pada pagi itu aku duduk bersimpuh di kursi paling depan, panjang berukuran dua meter, dan tangan kulipatkan di atas meja, berperawaka sopan, begitu juga dengan kawan-kawanku yang lain. Kami sedang menunggu ibu Marli, seorang guru honorer yang mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas kami.

Entah ada gerangan apa, jarum jam sudah menujukkan pukul sembilan. Matahari mulai naik meninggalkan sarang. Hanya pesona dingin yang masih mengelus kulit, membuat bulu-bulu kecil merinding tegak. Tapi ibu Marli belum menampakkan dirinya pagi ini.

Biasanya jam segini sudah meneriakkan, “Ini Budi.” Mengajarkan kami membaca, dengan suara khasnya. Sambil menunjuk coretan di papan tulis dengan rol yang berukuran panjang.

Suara kegirangan burung Gereja bersahutan sembari berkejaran terbang bebas mengudara di langit. Anak–anak pun berhamburan berlarian di sela–sela meja belajar, setelah sekian lama menunggu ibu Marli tak kunjung tiba.

Tangan si Agam sibuk mengores–gores uapan embun di jendela kaca. Tiba-tiba, suara kretak krutuk langkah sepatu terdegar dari kejauhan mendekati. Menuju ke arah kelas Agam,

“Ibu Marli katroh”(Ibu Marli sudah sampai) teriak Dian, dalam bahasa Aceh. Anak–anak kembali diam. Duduk rapih di atas kursinya masing–masing.

Seorang pria paruh baya muncul di balik daun pintu kelas satu. Bukan orang yang ditunggu, melainkan Pak Nyakna, kepala sekolah Agam. Tanpa diawali basa-basi, ia menyuruhku ke ruang guru. Tidak ada bantahan, aku mengekor dari belakang. Dengan sedikit rasa sok tahu, “Pasti menyuruhku merapikan buku di pustaka,” lirih hatiku.

Kakiku menyelusuri lantai licin ruangan guru. Aku mendapati seorang pemuda yang sedang berbisik-bisik duduk membelakangi pintu. Entah apa yang dibisiknya. Dia bukanlah guru di sini. Dia Bang Adi, tetangga rumahku. Aku telah lama mengenalnya. Tidak hanya itu, yang aku tahu, ia juga masih keluarga jauh ibu. Gumam hatiku, “Ada keperluan apa ia kemari?” Mungkin ada keperluan pribadi dengan salah seorang guru di sini. Aku mereka-reka. Mulanya, aku tidak mau menghiraukan keberadaanya itu, terus mengekor mengikuti bapak Nyakna.

Saat berpapasan, dengan raut wajah sedih, Bang Adi berpaling ke arahku, serta beberapa guru yang ada di sana pun menatap dengan wajah yang sama. Tetap saja Aku tidak mempedulikan tatapan itu. Terus melangkah mendekati Pak Nyakna.

“Apa bapak akan menyuruhku merapikan buku itu lagi?” Tanyaku kepada Pak Nyakna.

Seperti memedamkan rasa kesedihan, ia menjawab, “Hari ini tidak ada yang harus kamu rapikan Gam. Lekaslah pulang nak! Ibumu sedang menuggu! Bang Adi ini mau menjemput kamu pulang sekarang” Jawab Pak Nyakna.

Keningku kerut- kecut. Penasaran melihat gelagat yang agak ganjil ini. Tidak sering seperti ini. Apalagi menyuruh pulang pada saat jam belajar. Lagi pun tidak pernah ada yang menjemputku ke sekolah selama ini. Bukankah Ibu menemani Abu di ladang? Jika ia pulang pun menghabiskan waktu setengah hari berjalan baru sampai di tempat tujuan. Tidak mungkin sampai ke rumah sepagi ini.

Aku bergeming. Tidak mau pulang.

“Kenapa harus pulang secepat ini? Bukankah aku harus menunggu Ibu Marli belajar membaca? Memperkenalkan kami dengan ‘keluarga’ si Budi?”

“Ayah Budi, Ibu Budi, dan Adik si Budi!”

“Lagipula, kalau sudah waktunya pulang aku bisa pulang sendiri!”

“Tanpa harus dijemput,” Jelas Agam dengan lugu sedikit lucu.

“Kita pulang saja dulu, Gam!” Bujuk Bang Adi. Terbata-bata. “Kan, besok bisa sekolah lagi, Gam?” Bang Adi seperti merahasiakan sesuatu kepadaku.

“Ada gerangan apa sich, Bang?” Tanyaku lagi.

“Kenapa wajah Abang kelihatan gugup?”

“Abang sakit ya?”

Bang adi berpaling. Menepis pertanyaanku. Benar-benar ia tidak mengupayakan untuk menjawab dan tiba-tiba, “Ibu Marli hari ini tidak datang. Katanya kurang sehat.” Sahut Ibu Dahlia, guru matematika. Dia duduk mematung di sudut ruangan yang sejak awal mendengar percakapan kami.

Mendengar ucapan Ibu Dahlia, aku mengurungkan untuk menabuh kembali genderang perlawanan itu. Ia seorang guru yang paling lembut diantara guru-guru yang lain dan pandai mengambil hati para murid. Aku pun luluh dibuatnya. Sebelum beranjak pulang, aku memasang wajah kesal kepada Bang Adi yang masih berdiri mematung di sampingku.

Hari menjelang siang, bongkahan awan mengepul di angkasa, dan mulai mengirimkan ribuan prajurit hujan menghantam kerikil-kerikil jalanan. Dan tumpukan-tumpukan kotoran itu mulai mencair tergerus air. Hujan itu membawanya habis tak tersisa. Debatanku menuai kekalahan. Meski tidak ada alasan tepat yang menguatkan ajakan Bang Adi. Apa boleh buat? Tidak ada seorang guru pun yang mau berusaha mencegatku untuk dibawa pulang Bang Adi pada hari itu.

Akhirnya, aku mengorbankan jam belajarku untuk pertama kali. Dengan diboncengi sepeda ontel Bang Adi, aku terpaku. Duduk di belakang. Tangan mungilku memegang erat pingangnya. Di bawah lembut rintik hujan, kaki Bang Adi berayun dengan sempurna. Mengayuh sepeda ontelnya menelusuri jalan pulang.

“Apa ibu sudah pulang, Bang?” Tanyaku membuka pembicaraan.

Bang Adi tetap saja membisu, mengalahkan orang bisu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada sesuatu yang dirahasiakan padaku.

Mendengar pertanyaan itu, seperti ada halilintar sedang mengejap-ejap dalam hatinya. Hatinya seakan remuk digebuk pertanyaan-pertanyaan yang terus-terusan dilontarkan Agam. Bang Adi menyimpan rasa kepedihan di balik ketegarannya. Tapi ia enggan menampakkan kesedihan di depan bocah ingusan itu.

Adi berusaha menjawab, sekenanya, ”yaa!” Singkat. Sambil menoleh ke arahku.

“Bersama Abu?” Tanyaku lagi.

“Tadi Abu menyuruh Abang menjemputmu ke sekolah!” Jelas Bang Adi

Mendengar ucapanya, jelas saja membuat sorak ceria hati kian membuncah. Melambung ke langit-langit menyiratkan rasa rindu menggebu sejak sekian lama tidak bertemu. Apalagi bermanja-ria seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Hatiku lega. Sudah lama menantikan kepulangan Abu dan Ibuku. Akhirnya, rasa rindu itu baru saja terlunasi dari Bang Adi. Meski baru sekedar berita kepulangan yang dikabarkan. Ah… rasa bahagia itu.

Dan yang paling membuat hati bahagia ketika berita kepulangan itu disambut oleh jemputan Bang Adi. Sebelumnya, selama bersekolah tidak pernah ada yang menjemput ke sekolah. Meskipun dengan hanya ditumpangi sepeda ontel ringkih sekalipun. Benar-benar hari istimewa bagiku. Sepertinya, Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya dengan mencurahkan kebahagiaan itu. Hanya untukku pada kesempatan ini.

Ayah Agam seorang petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Beberapa tahun lalu, pemerintah mencanangkan program pembukaan sawah baru secara besar-besaran, khusus bagi para petani yang tidak memiliki lahan sendiri.

Pemerintah akan memberi bibit melalui subsidi dan pembebasan lahan yang dikucurkan miliaran rupiah. Ikutlah ayah Agam di dalamnya. Di tengah belantara hutan Beutong Benggalang yang serba keterbatasan. Ayah Agam bertahan mempertaruhkan hidupnya demi masa depan cemerlang.

Tempat itu berada jauh dari kampung Agam tinggal sekarang. Selama masuk sekolah, terpaksa Agam tinggal bersama neneknya. Sebagai ibu rumah tangga yang penurut, ibu Agam pun mengikuti jejak suaminya dan turut membawa Dek Cut, adik Agam yang masih kecil. Kedua orangtuanya hanya pulang sesekali mengunjungi Agam dan mengurus segala keperluan sekolahnya jika pulang.

Tidak lama lagi, sekolahnya akan ada libur panjang menyambut bulan Ramadhan. Pasti abu dan ibunya akan membawanya ke ladang. Agam senang sekali bila berada di tempat itu. Apalagi jambu–jambu monyet liar yang tumbuh di sekitar ladangnya akan menemui kematangannya.

Jambu–jambu putih itu akan dipetiknya dan dimasukkan ke dalam bejana yang dianyam dari daun pandan. Kemudian dilahapnya Jambu Putih itu sesampai di Rangkang.

Hari ini, mereka sudah pulang. Dan Abu menyuruh Bang Adi untuk menjemputku agar segera pulang. Rasanya gerak roda sepeda pun semakin lamban berputar. Hatinya ingin segera mencium wajah murung Dek Cut. Di saat ia merapatkan hidung di pipi adiknya itu, hanya teriak, “Mak” yang keluar dari mulut mungil adiknya. Agam suka mengganggu adiknya itu.

Gejolak rindu hati Agam bukan kepalang. Tak sabar ingin segera menumpahkan kerinduan itu dalam pelukan ibunya. Apalagi sudah lama sekali tidak lagi mendegar Hikayat Indra Budiman yang sering dikisahkan ibunya menjelang tidur. Dan berhenti sesudah ia meringkuk dalam pelukannya.

Di sepanjang jalan, Agam menyaksikan orang berduyun-duyun seperti mau pergi melayat. Berjalan satu arah dengan kami. Mereka menatap kami dalam-dalam. Menyebarkan aura wajah kesedihan. Aku hanya menyaksikan tatapan ganjil itu dengan heran.

Rasa senang itu kini bercampuraduk di antara duyunan orang-orang entah mau kemana. Semakin mendekati rumah, semakin ramai pula kerumunan itu menyesaki. Aku tidak menarik lagi untuk bertanya. Percuma. Tidak ada jawaban untuk kuperoleh. Jika Bang Adi masih saja membisu tidak mau menjawab pertanyaanku. Hanya kakinya yang sibuk mengayuh sepeda. Dan tangannya menjaga keseimbangan setang sepeda saat putaran roda itu menaiki batu cadas.

Bang Adi menghentikan sepeda ontelnya tepat di sentral kerumunan orang-orang itu berada. Kami tiba dirumah. Aku turun dari sepeda dengan risau. Rumahku disesaki orang-orang kampung. Ada kejadian apa gerangan? Rumah yang kutinggal tadi pagi sepi, kini berubah drastis. Aku berdiri kaku menatap orang-orang itu. Mereka membalas menatapku dengan tatapan penuh iba. Aku bingung. Suara teriak tangis dari dalam rumah bercampur menjadi satu dengan Yasinan.

Seseorang menarik tanganku membimbing masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu entah siapa yang telah menarik tanganku. Aku terdiam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut. Meskipun untuk menanyakan perihal apa yang sedang berlaku, selain termangu dengan buku yang masih melekat di tanganku.

Tidak pernah ada dalam firasat, tidak pernah bisa menerka, semuanya berada jauh di balik duga. Orang yang selama ini aku tunggu dengan rindu itu sudah terbujur kaku. Hatiku hancur, jantung nyaris kehilangan detak. Penyakit asmanya kambuh dan merenggut nyawanya pada subuh itu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/26/50355/mendung-menyelimuti-agam-4/#ixzz30cEafeX8

Lewat di Hadapan Makmum, Bolehkah?

Anak Shalat Berjama'ah

Assalamu ‘alaikum. wr.wb. ‘Afwan ustadz, bagaimna caranya keluar dari shaf saat sholat berjama’ah yang ramai apabila sholat kita batal sementara kita berada pada shaf yang agak depan? Apakah boleh melewati orang yang sedang shalat? padahal ada hadits yang melarangnya.. Jazakallah khairan(Azhar)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Man Waalah, wa Ba’d.

Masalah ini sering menjadi pertanyaan banyak orang. Mereka bingung ketika ingin keluar dari jama’ah shalat karena batal. Sedangkan mereka berada dalam shaf depan. Apakah dibolehkan jalan melewati makmum? Bukankah nabi melarang kita lewat di depan orang shalat, sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلْيَدْرَأْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Jika kalian shalat maka jangan biarkan seorang pun lewat di hadapan kalian, cegahlah semampu kalian, jika dia menolak untuk dicegah maka bunuhlah, karena dia adalah seetan.” (HR. Muslim, 258/505)

Para ulama’ memahami larangan ini berlaku untuk shalat sendiri dan shalatnya imam. Boleh saja melewati makmum, sebab larangan melewati depan orang shalat hanya berlaku bagi shalat sendiri atau shalatnya imam. Larangan hadits di atas masih mujmal (global) yang larangan tersebut di-takhshish (dibatasi) oleh hadits lainnya.

Berikut ini dalilnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَأَقْبَلْتُ رَاكِبًا عَلَى أَتَانٍ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ قَدْ نَاهَزْتُ الِاحْتِلَامَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاس بِمِنًى فَمَرَرْتُ بَيْنَ يَدَيْ الصَّفِّ فَنَزَلْتُ فَأَرْسَلْتُ الْأَتَانَ تَرْتَعُ وَدَخَلْتُ فِي الصَّفِّ فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ عَلَيَّ أَحَدٌ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Aku datang dengan mengendarai keledai betina, saat itu aku telah bersih-bersih dari mimpi basah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di Mina, maka aku lewat di depan shaf lalu aku turun dari kendaraan keledai betina, lalu aku masuk ke shaf dan tak ada satu pun yang mengingkari perbuatan itu.” (HR. Muslim No. 504)

Hadits ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas berjalan di depan shaf makmum. Bahkan dia lewat sambil menunggangi untanya, dan tidak seorang pun mencegahnya. Artinya, larangan melewati (berjalan) di depan orang shalat, hanya berlaku jika melewati imam dan orang yang shalatnya sendiri. Menurut keterangan riwayat ini, melewati di depan makmum (karena ada keperluan) tidaklah mengapa. Kebolehan ini tidak ada perselisihan di antara para ulama. Wallahu A’lam

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menulis dalam Fathul Baari:

وَقَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ : حَدِيثُ اِبْن عَبَّاس هَذَا يَخُصُّ حَدِيثٌ أَبِي سَعِيد ” إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعُ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ ” فَإِنَّ ذَلِكَ مَخْصُوص بِالْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِد ، فَأَمَّا الْمَأْمُومُ فَلَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس هَذَا ، قَالَ : وَهَذَا كُلُّهُ لَا خِلَافَ فِيهِ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ

Berkata Ibnu Abdil Bar, “Hadits Ibnu Abbas ini menjadi takhsis (pembatas) bagi hadits Abu Said yang berbunyi, ‘Jika salah seorang kalian shalat maka janganlah membiarkan seorang pun lewat di hadapannya,’ sebabhadits ini dikhususkan untuk imam dan shalat sendiri. Ada pun makmum, maka tidak ada sesuatu pun yang memudharatkan siapa pun yang lewat di hadapannya, sebagaimana yang ditegaskan oleh hadits Ibnu Abbas ini. Semua ini tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama.”(Fathul Bari, 1/572)

Demikian. Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajma’in.

Wallahu A’lam.

Sumber: 

Bukan FIFO Ataupun LIFO

Ilustrasi. (inet)

Beberapa waktu yang lalu, bersama lima rekan kerja lainnya, aku bertakziah ke keluarga salah satu rekan kerja kami yang kembali kepada penciptanya setelah tiga bulan berjuang melawan penyakit yang menyerang organ bagian dalamnya.

Keharuan langsung terasa ketika kami tiba di kediaman orang tua almarhum. Istri almarhum bahkan kembali menangis saat menyambut kedatangan kami. Aku yang mengenal almarhum cukup dekat, tekun menyimak cerita ayah almarhum yang meski kedua matanya tak lagi basah, tapi dari warna merah yang tersisa tergambar jelas betapa duka mendalam masih ia rasakan.

Siapapun orangnya, dan bagaimanapun caranya, rasa kehilangan itu sama, sedih, hingga sering kali air mata yang mewakilinya. Namun dari beberapa yang pernah kutemui, rasa kehilangan dan duka mendalam lebih terasa ketika yang meninggal usianya lebih muda, agak berbeda apabila yang meninggal dunia sudah lanjut usia. Begitupun yang kutemui di keluarga ini. Usia almarhum yang relatif masih muda, membuat keluarga terutama sang ayah sulit untuk meredam kesedihan.

Dari orang berbeda, aku juga pernah menemui hal yang – hampir – sama. Seorang ibu berkali-kali pingsan di hadapan jenazah putri kandungnya yang usianya baru separuh dari usianya.

Jika dalam manajemen perdagangan atau pergudangan dikenal sistem FIFO (first in first out, yang pertama masuk, pertama keluar) dan juga LIFO (last in first out, yang terakhir masuk, pertama keluar) maka dalam hal kematian tidak ada istilah FIFO maupun LIFO. Tidak ada aturan bahwa siapa yang lahir lebih dulu dia yang akan mati duluan, sementara yang lahir belakangan matinya pun belakangan, atau sebaliknya.

Bila ada seorang anak tersedu di acara pemakaman orang tuanya dianggap wajar, maka seorang nenek yang terisak pilu di hadapan jenazah cucunya yang baru saja lahir ke duniapun bukanlah sebuah keanehan. Malaikat Izrail tidak pernah salah melaksanakan tugasnya. Ia akan menjemput orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat pula, sesuai dengan yang Allah tetapkan ketika usianya baru memasuki empat bulan dalam kandungan.

Keliru besar apabila ada orang yang berbuat sesuka hati menuruti hawa nafsunya dengan anggapan dirinya masih muda, masih banyak orang-orang yang lebih tua dari usianya, sebab sekali lagi dalam persoalan kematian, tidak berlaku sistem FIFO seperti halnya dalam dunia perdagangan dan pergudangan.

Tentu ada sebuah hikmah mengapa Allah menjadikan kematian sebagai salah satu rahasia-Nya. Jika saja diberlakukan sistem FIFO, maka para ahli maksiat akan terus memperturutkan hawa nafsunya selama orang lain yang terlahir sebelum dia masih hidup.

Harus selalu kita ingat bahwa kapanpun, di manapun dan dengan cara bagaimanapun maut bisa saja datang menjemput. Jangan pernah berpikir usia masih muda, badan masih sehat, lantas menunda-nunda kewajiban kita selaku makhluk kepada penciptanya. Ingatlah bahwa siapapun kita, sadar atau tidak sadar, sebenarnya kita sedang berada dalam antrian yang kita tidak tahu nomor berapa, setelah siapa. Yang harus diingat, dalam hal ini (kematian) tidak berlaku sistem FIFO maupun LIFO.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/05/02/45415/bukan-fifo-ataupun-lifo/#ixzz30cByy7k5

Minggu, 13 April 2014

Derita Muslim Afrika Tengah Derita Muslim Afrika Tengah

Ilustrasi. (alazhar-alsharif.gov.eg)

Konflik berbau SARA masih terus berkecamuk di Afrika Tengah. Kabar terakhir menyebutkan, ada 19.000 muslim yang kondisinya terancam di ibukota Bangui. Kondisi ini menunjukkan perseteruan antara milisi Seleka dengan milisi Anti-balaka belum juga berakhir, bahkan semakin meluas. Dan PBB maupun Uni Afrika sejauh ini dinilai telah gagal melerai perang sipil yang sudah memanas sejak bulan Desember 2013 lalu.

Berbicara tentang Afrika Tengah tentu tidak bisa dilepaskan dari eks penjajah negeri itu yakni Perancis. Kendati sudah angkat kaki dari Afrika Tengah sejak tahun 1960, Perancis masih memiliki pengaruh kuat di negeri termiskin ketujuh di dunia ini. Pasalnya banyak kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya, seperti uranium, berlian, emas dan minyak bumi yang bisa diambil.

Di samping kepentingan SDA, Perancis juga ingin memiliki pengaruh secara politik. Inilah yang menyebabkan mengapa Afrika Tengah tetap sebagai negeri yang dijajah, yang hingga saat ini tidak dapat menentukan masa depannya sendiri. Indikasi itu terlihat ketika kudeta yang disokong oleh kubu oposisi terjadi (24/4/2013), Perancis gusar karena untuk pertama kalinya dalam sejarah ada tokoh muslim yang memimpin pemerintahan di Afrika Tengah.

Setidaknya ada 3 alasan oposisi yang sebagian besarnya adalah muslim melakukan kudeta dari Fransco Buzizi yang sudah menjabat sebagai presiden selama 10 tahun, pertama, ia mengingkari janjinya untuk menggabungkan milisi Seleka ke dalam Kementerian Pertahanan sesuai kesepakatan internasional, Libreville yang melibatkan Chad-Amerika-Perancis , kedua, sikapnya tidak adil dalam memperlakukan umat Islam, diantarnya tidak ada penghormatan terhadap dua hari raya besar Islam, ketiga, menghabiskan dana negara untuk pembangunan gereja dan mempersenjatai milisi Anti-balaka.

Intervensi Perancis

Kecaman keras datang dari dunia internasional paska larinya Buzizi ke Kamerun dan tampuk kekuasaan diambil alih oleh kubu Oposisi yang dipimpin oleh Michael Djotodia bernama asli Muhammad Dhohiya, (24/4/2013). Niat baik Djotodia untuk mengamankan pemerintahan hingga pemilu tahun 2016 sesuai kesepakatan Libreville ternyata tidak ditanggapi positif, yang terjadi justru aksi balas dendam hingga sampai tahap pembersihan etnis muslim.

Entah atas pertimbangan apa PBB kemudian memberikan izin kepada Perancis untuk menangani konflik di Afrika Tengah, hal ini mengundang kecurigaan bahwa misi yang dibawa bukan untuk mengembalikan stabilitas keamanan, namun lebih dalam rangka mengamankan kepentingan Paris terhadap tambang uranium miliknya. Hal ini yang membuat negara tetangganya Bulgaria mengurungkan niatnya membantu Perancis, karena dipahami bahwa negeri Napoleon itu kini sedang dilanda krisis ekonomi, sehingga berkepentingan untuk menyedot sumber kekayaan alam di Afrika Tengah.

Penuturan Ismail Said, salah seorang petinggi umat Islam di Afrika Tengah dalam wawancaranya dengan channel aljazeera mengatakan, pada tanggal 5 Desember 2013 tentara Perancis tiba di Afrika Tengah, kemudian melakukan sweeping senjata terhadap 7000 milisi Seleka. Praktis milisi Oposisi yang terdiri dari 70% muslim dan 30% Kristen ini tidak lagi memiliki senjata untuk mempertahankan diri. Namun yang mengejutkan, razia senjata tersebut tidak diterapkan Perancis terhadap milisi Anti-balaka.

Anti-balaka sendiri merupakan kelompok para penyamun yang identik dengan senjata tajam berupa parang, milisinya diperkuat pula dengan tentara loyalis Buzizi. Mereka memburu kaum muslimin dengan dalih balas dendam, serta merampas harta kekayaan para saudagar muslim di Afrika Tengah

Satu hari paska kehadiran tentara Perancis, meletus pembantaian besar-besaran terhadap kaum muslimin yang masih berlanjut hingga sekarang. Ada beberapa alasan mengapa perang atas nama agama ini sengaja dihembuskan, pertama, mayoritas muslim di Afrika Tengah menguasai pasar ekonomi, mereka adalah para saudagar, termasuk diantarnya pemilik peternakan sapi yang jumlahnya mencapai 60 juta ekor. Kondisi ini membuat kelompok lain iri, bahkan pemerintahan di masa Bouzizi pernah merampas kekayaan umat Islam di tahun 2010 yang kemudian berujung bentrok dan menyebabkan tewasnya ratusan warga muslim.

Kedua, bagi Perancis, Islam yang menguasai pemerintahan itu dinilai membahayakan, sehingga perlu segera dibungkam. Cara yang sama diterapkan Perancis di negara eks jajahannya di Mali, Paris mengirimkan tentaranya dalam jumlah besar untuk menekan perlawanan dari kelompok Islam di sana. Ketiga, kalau sekedar menjual isu kudeta itu hal yang lumrah, karena sejak merdekanya dari Perancis, negeri yang tidak memiliki lautan ini berulang kali melewati drama kudeta. Dengan isu agama ada target wilayah Afrika Tengah dapat dipecah menjadi dua; antara wilayah muslim dan non muslim.

Keempat, sangat mudah bagi Perancis dalam memanfaatkan milisi Anti-balaka. Di samping mereka non muslim, mereka tidak memiliki muatan politis, karena berlatar belakang penyamun dan hanya ingin merampas kekayaan yang dimiliki umat Islam. Dampaknya di samping banyaknya muslim yang terpaksa mengungsi ke negara tetangga, roda perekonomian pun lumpuh total, rakyat Afrika Tengah kini bahkan terancam kelaparan .

Mencari Solusi Bersama

Saat ini sudah ribuan warga muslim yang tewas, 25% dari 4,6 juta total penduduk Afrika Tengah terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga. Perancis memang sudah mendatangkan 2.000 personilnya, Uni Afrika mengerahkan 6.000 personil, namun yang menjadi pertanyaan mengapa pasukan sebesar itu tidak sanggup menyudahi pertikaian? Terakhir Uni Eropa akan mengirim pasukan sebanyak 1.000 personil, padahal dalam prakteknya terlihat jelas, bahwa banyaknya personel tidak memberikan solusi.

Pertama, yang terjadi di lapangan adalah pembiaran pembantaian, karena tidak mungkin ibukota harus bersih dari umat Islam kecuali karena ada pembiaran dari tentara gabungan Internasional terhadap milisi Anti-balaka untuk melakukan pembantaian. Sehingga umat Islam di sana hanya dihadapkan ke dalam dua pilihan; keluar dari Afrika Tengah atau dibunuh oleh milisi Anti-balaka.

Kedua, PBB selaku pihak yang netral seharusnya segera mempertemukan perwakilan dari kedua belah pihak yang bertikai di atas satu meja perundingan. Tujuannya agar terwujud sebuah kesepakatan bersama, mencapai perdamaian dan saling menghormati antar umat beragama, termasuk di dalamnya menentukan masa depan Afrika Tengah.

Ketiga, apapun alasannya, sekalipun minoritas, muslim di Afrika Tengah merupakan saudara mereka. Islam sudah hadir di wilayah itu sejak abad 10 H. dan memiliki andil yang cukup besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Afrika Tengah dari tangan penjajah Perancis. Warga Afrika Tengah harus sadar, bahwa kini mereka tengah di adu domba dan berada di dalam pusaran kepentingan pihak yang ingin memecah belah negara mereka. Wallahua’lam bishowab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/13/49415/derita-muslim-afrika-tengah/#ixzz2yoXn4ow8

Mau Ujian Nasional? Baca Ini Dulu

Ilustrasi. (merdeka.com)

Ujian Nasional (UN) memang suatu event tahunan yang fenomenal. Setiap tahunnya, ribuan siswa SMA/SMK/MA lulus dan harus memilih antara kuliah atau bekerja terlebih dahulu. Dalam Ujian Nasional, berbagai macam cara dan persiapan dilakukan baik oleh peserta ujian, guru, maupun orang tua murid. Persiapan pun dilakukan oleh siswa dengan cara giat belajar, banyak latihan soal, diskusi, mengadakan kelompok belajar, Try Out, dan persiapan lainnya.

Sikap siswa dalam menghadapi ujian pun tentunya berbeda. Ada yang menyikapinya dengan woles, biasa saja, bahkan ada yang riweuh harus ini itu. Semua siswa punya tujuan yang sama untuk belajar, yaitu lulus ujian. Kalau nggak lulus ujian berarti nggak bisa kuliah, juga nggak bisa kerja. Tapi, siswa sekarang nggak perlu khawatir tentang nilai, karena nilai UN tahun 2014 hanya diambil enam puluh persennya saja, sisanya empat puluh persen diambil dari ujian sekolah. Ya namanya juga ujian, entah itu Ujian Nasional ataupun bukan, tentunya harus punya persiapan yang cukup. Terkadang, ujian ini bisa membuat siswa stres menghadapinya.

Stres merupakan efek yang terkadang hinggap di dalam diri siswa menjelang UN. Stres ini bisa jadi disebabkan oleh sugesti dari diri sendiri tentang Ujian Nasional yang dianggap sulit banget dan menegangkan. Mungkin karena namanya yang “nasional”, siswa menganggap bahwa ujian ini adalah tantangan yang paling besar setelah tiga tahun belajar.

Ujian, Buat Apa Sih?

Namanya juga ujian, sudah pasti sebagai bahan evaluasi sudah sejauh mana siswa memahami pelajaran yang diajarkan oleh guru-guru yang super greget pengabdiannya bagi pendidikan di Indonesia. Namun, harus menjadi catatan bahwa hasil ujian yang diindikasikan dengan nilai belum tentu menunjukkan tingkat kemampuan siswa, mengapa? Karena tidak semua siswa jujur dalam mengerjakan ujian. Siswa yang tidak jujur tersebut tidak mengerjakan ujiannya dengan kemampuan sendiri.

Ujian Nasional bukan sesuatu yang harus ditakuti, tapi dihadapi, betul nggak? Tapi, bagaimana sih menghadapinya? Dua cara sederhana (tapi nggak gampang dilakukan) yang bisa dilakukan adalah doa dan usaha. Kedua cara tersebut terbukti ampuh kalau ditambah dengan satu cara lagi, yaitu taqwa. Jika doa sudah kuat, ikhtiar sudah hebat, maka taqwa juga tidak boleh dipisahkan untuk menghadapi Ujian Nasional. Pertanyaannya adalah, mengapa harus doa dan taqwa?

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah [2] : 186).

Di dalam ayat di atas, doa dan taqwa itu berkaitan, betul nggak? Coba ingat-ingat lagi apa yang disebut dengan taqwa, masih ingat kan?

Siapa yang dapat mengabulkan doa? Siapa yang mencerahkan pikiran manusia untuk menerima ilmu? Siapa yang menciptakan penglihatan dan pendengaran sehingga siswa bisa menerima pelajaran dengan baik? Siapa yang meluluskan Ujian Nasional? Jawabannya pasti Allah, iya kan? Karena Allah menggerakkan tangan-tangan para penilai ujian (sekarang sudah memakai komputer) untuk menjadikan nilai ujian sesuai atau bahkan lebih dari KKM. Oleh karena itu, wajib hukumnya berdoa dan bertaqwa, meskipun bukan saat akan Ujian Nasional saja. Ingat, doa dan taqwa saja tidak cukup, jangan lupa ikhtiar dengan giat belajar. Kalau berdoa terus tapi nggak belajar, kapan bisanya ya?

Kenapa Harus Nyontek?

Nyontek itu bisa terjadi karena beberapa alasan. Alasan yang paling kuat yaitu takut nggak lulus. Alasan yang kedua yaitu karena nggak tahu jawabannya. Kemudian alasan yang ketiga adalah karena terpaksa menyontek.

Kenapa sih harus nyontek? Inilah mirisnya para pelajar di zaman sekarang, entah itu di tingkat SD, SMP, SMA/SMK/MA maupun perguruan tinggi, budaya menyontek masih saja ada, apalagi ketika ujian sedang berlangsung. Menyontek itu merupakan kejahatan akademik yang harus diberantas. Selain itu, menyontek juga merupakan perbuatan kebohongan terhadap tiga pihak, siapa saja? Di antaranya adalah bohong terhadap diri sendiri, bohong terhadap guru, dan bohong terhadap orang tua. Mengapa menyontek itu sama dengan berbohong?

Nilai bukan sebuah hasil mutlak dari mampunya siswa dalam pelajaran. Jika nilai itu didapatkan dengan cara menyontek, berarti nilai tersebut bukan berasal dari diri sendiri, tetapi hasil orang lain yang ditulis di dalam database nilai yang dimiliki. Nah, dengan nilai yang didapat dari hasil menyontek, bisa nggak kita mempertanggungjawabkannya di masyarakat, guru atau orang tua? Kalau nggak bisa mempertanggungjawabkannya, bagaimana jadinya nanti?

Menyontek itu perbuatan dusta dan mendustakan. Ingat! Ingat Ingat!

Siswa Jujur Itu Langka

Zaman sekarang itu sulit rasanya mencari siswa yang benar-benar jujur di dalam ujian. Sulit sekali menemukan siswa yang mempunyai prinsip kejujuran dalam dirinya. Kalau semua siswa di Indonesia jujur (begitu pula dengan masyarakatnya), tentunya negeri ini akan bebas dari koruptor yang “menghisap darah” rakyat. Bedanya, kalau siswa jujur itu mendapatkan hasil dengan cara yang legal, sedangkan siswa pencontek itu mendapatkan hasil dengan cara ilegal, dalam artian melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang baik. Siswa seolah tidak mengenal mana yang baik dan buruk. Hal ini tidak jauh beda dengan para pemimpin dan wakil rakyat korup yang berusaha mendapatkan kekuasaan dengan berbagai cara.

Para Guru yang “Menyesatkan”

Mungkin berita tentang guru yang memberitahu bocoran jawaban kepada siswa sudah pernah didengar sebelumnya. Sebenarnya, apa sih motif guru untuk membocorkan jawaban Ujian Nasional? Takut anak didiknya nggak luluskah? Sehingga, jika ada yang siswa yang nggak lulus ujian, maka reputasi sekolah itu akan turun. Jika memang benar, yang jadi pertanyaan adalah, tujuan guru mengajar untuk apa? Untuk menaikkan reputasi sekolahkah? Atau, untuk apa?

Para guru yang membocorkan jawaban ujian kepada siswanya sama dengan melegalkan kejahatan akademik, atau melegalkan anak didiknya melakukan kebohongan serta kecurangan. Guru seperti ini seharusnya tidak pantas disebut sebagai guru, karena tidak memberi contoh yang baik terhadap murid-muridnya. Menjadi guru yang baik saat persiapan dan ketika ujian berlangsung tentunya merupakan suatu fardhu ‘ain. Guru yang baik tidak mengajarkan anak didiknya untuk berbohong dan melakukan kecurangan. Guru yang baik tentunya mengajarkan dan mendidik anak-anaknya tidak dari segi kognitif saja, tapi dari segi akhlak juga wajib untuk dididik, apa tujuannya? Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadikan anak didik yang beriman, bertaqwa, dan cerdas, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertera pada Kurikulum 2013.

Untuk para guru, jangan sampai menyuruh anak didik berbuat curang ketika ujian. Karena jika hal demikian dilakukan, lebih baik mengundurkan diri saja jadi guru. Memberi bocoran jawaban ujian kepada siswa bukan menolong mereka, tetapi menyesatkan mereka dengan melegalkan berbuat curang serta kebohongan. Selain itu, guru juga tidak punya rasa percaya terhadap anak didiknya bahwa mereka bisa lulus ujian dengan hasil yang memuaskan tanpa terjadi kecurangan.

Istighasah, Buat Apa?

Istighasah adalah suatu cara yang dilakukan umat Islam untuk meminta pertolongan kepada Allah. Biasanya, sekolah-sekolah suka mengadakan acara ini ketika menjelang Ujian Nasional. Istighasah dilakukan dengan mengundang ulama atau dai untuk ceramah dan memotivasi siswa, serta memimpin doa supaya Allah melancarkan serta meluluskan para siswa yang akan mengikuti Ujian Nasional. Namun, yang jadi pertanyaan adalah, buat apa istighasah?

Buat apa istighasah kalau pelaksanaan UN masih nyontek?

Buat apa istighasah kalau guru-guru masih melegalkan kecurangan ujian?

Buat apa istighasah kalau kecurangan masih saja dilakukan?

Buat apa istighasah kalau masih mengejar nilai dengan cara yang ilegal?

Bukannya istighasah itu merupakan bagian dari ikhtiar?

Memang merupakan bagian dari ikhtiar, akan tetapi, akankah datang pertolongan Allah yang berkah kalau cara yang dilakukan itu tidak disukai-Nya?

Sudah dulu membahas tentang contek-menyonteknya. Di bawah ini ada sedikit tips buat kamu yang mau Ujian Nasional.

Doa

Pertama, minta dulu sama Allah agar dilancarkan dan diluluskan UN.

Shalat Tepat Waktu

“Sesungguhnya amalan yang pertama dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat. Jika shalatnya baik, baiklah seluruh amalnya. Jika ia buruk maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani).

Perbaiki Amalan

Curi perhatian Allah dengan amal-amal shalih yang dilakukan. Tapi ingat, niatnya harus ikhlas, bukan karena ingin lulus ujian. Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya. Niat adalah kemauan seseorang untuk melakukan sesuatu. Sedangkan ikhlas adalah membersihkan niat dari niat-niat keduniaan. Niat harus bertujuan untuk mengharapkan ridha atau surga Allah, bisa juga niat karena takut masuk neraka atau ingin bersyukur.

Minta Bimbingan Guru atau Teman yang Lebih Tahu

Usahakan jangan belajar sendirian, karena jika jika tidak ada yang dimengerti maka akan kesulitan untuk mencari solusinya.

Mengucap Basmalah Sebelum Belajar

Sebelum belajar, usahakan baca basmalah agar Allah membukakan pikiran sehingga pelajaran dengan mudah masuk dengan pertolongan-Nya.

Tekadkan Untuk Jujur, Baik Ketika Ujian Maupun Setelah Ujian

Nilai itu hanya berupa angka, tapi kejujuran merupakan barang langka dan sulit ditemukan, Jadilah orang jujur meski orang lain tak suka. Karena dengan jujur, hasil UN yang didapatkan akan jauh lebih terasa manfaat kejujurannya.

Yakin Bahwa Allah akan Meluluskan UN

Sesungguhnya Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Jadi, yakinlah bahwa Allah akan meluluskan UN yang dikerjakan. Karena, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Berusaha Istiqamah dalam Kejujuran

Setelah UN selesai, jangan sampai kembali lagi menyontek. Jika itu terjadi, sama saja kembali melakukan dosa yang sama. Istiqamahlah untuk berlaku jujur, karena jujur akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga Allah yang luasnya seluas langit dan bumi.

Semoga kita bisa menjadi pribadi Muslim yang membawa kejujuran dan kebenaran sampai akhir hayat. Selamat menempuh ujian dengan jujur, semoga sukses.

Allahu A’lam.

Sumber: 

Senin, 31 Maret 2014

Menyibak Sepak Terjang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia

Menyibak Sepak Terjang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia

Oleh : Muhammad Faisal, SPd. M.MPd

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

Bismillahirrohmannirrohiem
Pertengahan tahun 2001, nama Jaringan Islam Liberal (JIL) mulai dikenal di Indonesia, nama tersebut mulai hangat diperbincangkan khususnya kaum muslimin Indonesia, dengan semboyan yang menawan “Islam yang membebaskan” mereka berhasil menarik perhatian banyak orang, baik yang pro maupun yang kontra.

Sebenarnya sudah banyak komentar yang diberikan terhadap statemen-statemen yang dikeluarkan oleh JIL. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa JIL hanyalah sekelompok orang yang kondisinya seperti seekor kucing yang sedang bangkit libidonya, mengeong keras sehingga memekakkan telinga dan menjengkelkan. Sebagian yang lain berkata bahwa pernyataan-pernyataan JIL tidak perlu dikomentari, karena akan semakin besar kepala. Tetapi apakah dibenarkan jika seorang muslim membiarkan kemunkaran..?, padahal Rasululloh telah bersabda :
صحيح مسلم ـ مشكول وموافق للمطبوع (1/ 50)
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuasaan). Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman”[1]
Sekilas tentang JIL di Indonesia

Markas JIL yang berkantor di Jl. Utan Kayu 68 H Rawamangun, itu juga adalah markas ISAI yang banyak menerbitkan buku-buku kiri (sebagain berisi pembelaan terhadap PKI dan tokoh-tokohnya). Di markas itu juga sering diadakan diskusi-diskusi, drama, teater dan lain-lain. Tokoh penggerak dan donatur utama markas 68H itu adalah Goenawan Mohamad. Sedangkan kantor berita radio 68H, salah satu penggagas utamanya adalah Andreas H (pengikut kristen), mantan wartawan Jakarta Pos. kegiatan awalnya dilakukan dengan menggelar kelompok diskusi maya (milis) yang tergabung dalamIslamliberal@yahoogropus.com selain menyebarkan gagasannya lewat web sitehttp://www.Islamlib.com. Pengelolal JIL ini dikomandoi oleh beberapa pemikir muda, seperti Luthfie Assyaukanie (Universitas Paramadina Mulya), Ulil Absor Abdala (LakPesDam NU), dan Ahmad Sahal (jurnal kalam). JIL yang bekerjasama dengan para intelektual, penulis dan akademisi dalam dan luar negeri untuk menjadi kontributornya. Mereka adalah:

1. Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina Mulya

2. Charles Kurzman, Universitas Of North Carolina

3. Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

4. AbdAlloh Laroui, Muhammad V University, Maroko

5. Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren Dan Masyarakat, Jakarta

6. Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, Jakarta

7. Edwan Said

8. Djohan Efendi, Deakin University, Australia

9. Abdullahi Ahmad An-Naim, University Of Khortum, Sudan

10. Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung

11. Asghar Ali Engineer

12. Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

13. Muhammed Arkoun, University Of Sorbonne, Prancis

14. Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta

15. Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah

16. Said Agil Siraj, PBNU, Jakarta

17. Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta

18. Rijal Mallarangeng, CSIS, Jakarta

19. Budi Munawwar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta

20. Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS

21. Taufik Adnan Amal, IAIN Alaudin, Ujung Pandang

22. Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta

23. Ulil Abshar Abdala, Lakpesdam-NU, Jakarta

24. Luthfie Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta

25. Saiful Mujani, Ohio State University, AS

26. Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok

27. Syamsurizal Panggabean, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta

Selain tokoh-tokoh di atas, beberapa tokoh Muhamadiyah juga ikut andil dalam mendukung gagasan JIL seperti Abdul Munir Mulkan dan Sukidi, bahkan ketua PP muhamadiyah, Syafii Maarif juga dapat dikatagorikan ke dalam pendukung gagasan Islam liberal, sebagaimana kita ketahui bahwa Maarif adalah pendukung gagasan liberal (neomodernisasi) Fazlur Rahman, ia juga dikenal getol dalam menolak dikembalikannya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi.

Di samping aktif menyebarkan gagasannya di internet, radio, majalah dan sebagainya, mereka juga menerbitkan jurnal dengan nama Tashwirul Afkar (gambaran pemikiran –pen) yang dikomandoi oleh Ulil Abshar abdala (pemred), jurnal yang terbit empat bulan ini resmi dibawahi oleh lakpesdam-NU (Lembaga Kajian Dan Pengembangan SDM) berkerjasama dengan The Asia Foundation (lembaga keuangan di asia yang dimiliki oleh orang-orang kriten). Wajah liberal jurnal ini terlihat pada terbitan edisi 11/2001 yang menampilkan tema “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”.

Kamami Zada, salah satu redaktur pelaksananya, mengkritik pendidikan Islam yang hanya membenarkan agama Islam saja, ia berkata “filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik benar (Truth Claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar, agar umat Islam tidak lagi mengangap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan.”[2]
Tujuan JIL

Suatu gerakan biasanya memulai prioritas aktivitasnya dengan mempresentasikan terlebih dahulu apa yang menjadi musuh dan ancamannya. Tanpa tendeng aling-aling JIL menyatakan

1. Gerakannya bertujuan untuk melawan atau menghambat gerakan Islam militan atau Islam fundamentalis
2. Menghambat kelompok-kelompok yang berjuang untuk menerapkan syari’at Islam secara kaffah dalam kehidupan
3. JIL merusmuskan tujuan gerakannya kedalam empat hal:
1. Memperkokoh landasan demokratisasi lewat penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusivisme, dan humanisme (semuanya ini merupakan doktrin-doktrin Yahudi dan AS –pen)
2. Membangun kehidupan keberagamaan yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan (hal ini sejalan dengan deklarasi HAM PBB yang disponsori oleh AS dan barat dimana jaminan HAM hanya diberikan kepada negara-negara yang ikut menandatangi perjanjian saja, sedangkan di luar itu tidak menjadapat jamian HAM – pen)
3. Mendukung dan menyebarkan gagasan keagamaan yang pluralis, terbuka dan humanis
4. Mencegah agar pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan pro-kekerasan tidak menguasai wacana publik Hal ini pula yang merupakan ketakutan AS dan barat atas Islam (Islamophobia -pen)[3]

Melihat wacana yang diusung oleh JIL yang dirumuskan dalam tujuan gerakannya, hal ini mirip sekali dengan semua gagasan dan tujuan yang didengungkan oleh AS dan barat yang Islamophobia, paranoid, di sisi lain hal ini sejalan dengan proyek besar freemansonry (organisasi rahasia kaum yahudi yang ingin menguasai dunia untuk menghancurkan umat beragama terutama menghancurkan Islam).[4] Metode yang mereka lakukan untuk menghantam Islam bukan lagi dengan cara kontak fisik (ofensif), karena mereka telah belajar dari pengalaman (perang salib) bahwa dengan perang, umat Islam yang paling tololpun akan bangkit jiwa jihadnya. Metode terbaru yang mereka lakukan adalah dengan perang pemikiran (Ghazwul Fikri), dimana umat Islam digiring ke dalam lembah pemikiran tentang Islam yang labil diambil dari dua sumber utamanya yaitu Al Qur’an dan sunnah agar umat menjadi bingung, membelot, ragu-ragu, atau paling tidak diberangus semangat jihadnya.

Berbagai cara yang dilakukan barat antara lain dengan memberikan label-label miring terhadap partai-partai atau organisasi yang berbau Islam dengan nama “militan”, “radikal”, “garis keras”, “fundamentalis”, “teroris”, dan opini menyesatkan lainnya sehingga umat Islam ketakutan ketika akan menjalankan syari’atnya. Hal ini diperparah pula dengan intervensi asing di negara tercinta yang mayoritas penduduknya muslim dengan tekanan ekonomi (World Bank, IMF), politik (pemaksaan diberlakukannya demokrasi oleh AS dan barat, sehingga negara yang menolaknya dimasukkan kedalam negara yang otoriter, tiran dan konotasi negatif lainnya), militer (dengan berbagai bentuk embargo senjata) termasuk dimensi kebudayaan yang dampak negatifnya cukup signifikan (seperti pornografi, pornoaksi, life style, dan kebebasan pers yang berlindung di bawah ketiak demokrasi dan HAM).[5]
Statemen-Statemen Para Tokoh JIL Dan Jawabannya

Pernyatan-pernyataan Nurcholis Madjid

1. Semua agama sama (wihdatul adyan), menuju keselamatan. Yahudi, Kristen, Islam dan agama apa saja adalah sama.

2. Iblis dan fir’aun akan masuk surga (karena iblis memurnikan penyembahan hanya kepada Alah saja, tidak mau kepada adam)

Komentar:

Entah apa yang ada dalam pikiran Nurcholis Madjid dengan mengatakan bahwa iblis akan masuk surga, padahal Alloh telah menyatakan dalam Al Qur’an lebih dari 10 ayat tentang kekafiran perbuatan iblis yang tidak tunduk dan patuh terhadap perintah Alloh untuk sujud (memberi penghormatan) kepada adam. Iblis adalah makhluk Alahyang sombong, terkutuk, dilaknat dan sebagainya. Lalu akankah mahluk terkutuk masuk surga, pikiran yang sangat aneh. Setiap orang muslim yang awampun akan berkata “sungguh mengherankan” pikiran cendikiawan muslim ini.

3. Manusia menyatu (melebur) dengan Tuhan saat mengucapkan “wa iyyaka nasta’in” (dalam surat al fatihah)

Komentar:

Ayat dalam surat Al fatihah ini sudah sangat jelas, ada objek ada subjek, ada hamba ada kholik, ada mahluk ada pencipta. Tetapi mengapa Nurcholis Madjid mengatakan bahwa manusia melebur dengan Tuhan ketika membaca ayat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN”. Dan yang terpenting, ayat di atas adalah ayat tentang keimanan, akidah yang wajib dipatuhi. Konsepsi penafsiran seperti ini jelas berasal dari tasawuf yang sesat (yang berpijakpada pemikiran ibnu arabi) yang menyakini bahwa mahluk itu adalah Tuhan itu sendiri, dan segala yang ada di dunia ini adalah perwujudan dari Tuhan. Oleh karena itu mereka mengangap bahwa penyembahan terhadap berhala merupakan bentuk penyembahan terhadap Tuhan, karena berhala itu adalah Tuhan juga. Pemikiran mana yang membenarkan logika sesat seperti ini.

4. Tidak boleh memandang salah terhadap keyakinan orang lain dengan berpatokan pada agama yang kita anut, karena vonis sesat hanya hak Alah semata.

Komentar:

Ini adalah salah satu cara mereka untuk melanggengkan paham yang mereka sebarkan. Hal ini pula yang melemahkan motivasi umat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan pernyataan tersebut beberap ayat Al Qur’an mereka dicampakkan, yaitu membiarkan kesesatan dan kemunkaran (Ali Imran : 104, 110,114). Pernyataan bahwa vonis sesat adalah hanya hak Alloh ini pun termasuk sesat, karena di jaman rasul ada dua orang yang berselisih, maka urusan itu diadukan kepada Rasululloh lalu Beliau memberikan keputusan berdasarkan Al Qur’an. Ternyata salah seorang diantara mereka tidak menerima keputusan tersebut akhirnya dia mengadukan kepada Umar. Ketika tiba di rumah Umar mereka menceritakan perselisihan yang mereka alami, lalu Umar berkata “Tunggulah disini, kalian jangan kemana-mana”, ternyata Umar masuk ke dalam rumahnya untuk mengambilpedang, lalu Ia membunuh orangyang tidak puas atas keputusan Rasul. Setelah peristiwa itu disampaikan kepada rasul, lalu Rasul berkata “Tidak mungkin Umar akan membunuh seorang muslim”, sabda Beliau ini artinya bahwa yang dibunuh Umar bukan lagi dianggap sebagai seorang muslim, tindakan umar ini didasarkan pada firman Alloh “

5. Ajaran Islam sudah tidak cocok digunakan pada kehidupan masyarakat modern. Yang lebih cocok adalah cara pandang dan berfikir orang barat

6. Makna “La ilaha illAlloh “ adalah tiada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar)

7. Menganjurkan agar umat Islam membaca dan mempelajari kitab-kitab suci terdahulu

8. Menganjurkan agar kita memiliki sifat sombong (AL Mutakabbir), salah satu sifat Alloh, hanya sebatas “Harga Diri”

Pernyatan-pernyataan Ulil Absor Abdala.

“Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa sudah terjadi di kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, gereja katolik di vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam, yang berusia 1.423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik.”

Jawaban:

Telah jelas bagi kita bahwa semua agama itu berbeda (walaupun dilihat secara definisi mungkin tujuannya sama). Contohnya dalam konsep theologi yahudi, nasrani dan Islam jelas beda. Orang yahudi meyakini bahwa Uzair adalah anak Alloh, begitupun orang nasrani mempercayai bahwa Isa adalah anak Alloh, sedangkan Islam meyakini bahwa Alloh tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (QS al ikhlash). Perhatikanlah firman Alloh:
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [التوبة: 30]

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Alloh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Alloh”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah : 30)

Alloh mengecam keyakinan-keyakinan tersebut, bahkan dinyatakan sebagai ucapan orang-orang terdahulu yang kafir. Disamping itu Alloh juga menjelaskan bahwa mereka (yahudi dan nasrani) menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan yang mempunyai otoritas untuk menyatakan halal atau haram terhadap sesuatu, sedangkan umat Islam meyakini bahwa otoritas untuk menentukan halal dan haram hanya hak Alloh semata yang disampaikan melalui rasul-Nya. Perhatikanlah firman Alloh:
{ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ } [التوبة: 31]

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh dan Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. (QS At Taubah : 31)

Kalimat “Islam bukan yang paling benar” yang diungkapkan oleh Ulil yang justru beragama Islam merupakan sebentuk kerapuhan dalam keyakinan terhadap Islam itu sendiri. Oleh karena itu pantaskan kita mendengarkan perkataan orang yang ragu dalam aqidahnya..?, padahal Alloh telah berfirman agar kita jangan termasuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran agama Islam, sebagaimana firman-Nya:
{أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ } [الأنعام: 114]

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Alloh, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.(QS Al An’am : 114)

Kalimat “Sedangkan Islam, yang berusia 1.423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik”. Ini adalah sebuah bentuk anjuran napak tilas terhadap jejak langkah orang-orang nasrani. Umat Islam sama sekali tidak membutuhkan jejak mereka, terlebih jika kita tahu bahwa “kedewasaan umat nasrani” yang merevisi doktrin kebenaran hanya ada di tangan gereja semata itu terjadi karena adanya tekanan dari pihak penguasa yang menginginkan konsep sekularisme (pemisahan antara negara dengan agama). Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kita tidak butuh konsep mereka dan tidak patut kita menirunya. Itulah sebabnya bahwa semua agama adalah beda. Islam mempunyai konsepsi tersendiri dalam berbangsa dan bernegara. Jika kita menyakini bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang patut dijadikan pedoman hidup, petunjuk jalan yang mengantarkan manusia pada kebahagian dunia dan akhirat, maka mengapa kita menjadikan orang-orang non muslim sebagai barometer. Mereka tidak akan pernah mau menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Bukankah Al Qur’an telah menjelaskan bahwa barang siapa yang berhukum bukan dengan hukum-hukum Alloh, maka dia adalah zalim, kafir dan fasik, sebagaimana firman-Nya:
{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [المائدة: 45]

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah : 45)
{وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [المائدة: 47]

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Maidah : 47)

“Larangan kawin beda agama bersifat kontekstual. Pada zaman nabi, umat Islam sedang bersaing untuk memperbanyak umat. Nah, saat ini Islam sudah semilyar lebih, kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam. Islam sendiri sebenarnya sudah mencapai kemajuan kala itu, memperbolehkan laki-laki muslim kawin dengan wanita ahli kitab. Ahli kitab hingga saat ini masih ada, malah, agama-agama selain nasrani dan yahudi pun bisa disebut ahli kitab. Kawin beda agama hambatannya bukan theologi, melaikan sosial.” (Majalah Gatra, 21 desember 2002)

Jawaban :

Kalimat “larangan kawin beda agama bersifat kontekstual”, ini adalah ungkapan orang yang jahil dalam ulumul qur’an. Ayat ini tidak pernah dinasakh oleh ayat lain, jadi harus dipahami keumuman ayatnya, bukan dengan kekhususan sebab turunnya. Secara faktual Al Qur’an telah melarang umat Islam untuk menikah dengan orang yang berbeda agama, sebagaimana firman-Nya:
{وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [البقرة: 221]

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS Al Baqarah : 221)

Kalimat “kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam”, ungkapan tersebut menunjukkan bentuk pengingkaran dan kesombongan terhadap Rabb. Setelah dengan jelas diharamkan menikah dengan orang kafir sebagaimana ayat di atas, mengapa masih ada orang yang menganjurkan agar umat Islam jangan takut menikah dengan orang non muslim, padahal berulang kali Alloh menyatakan “takutlah kamu terhadap tuhan-Mu” (QS Ali Imran : 175, Al Maidah : 3, 44, Al Hujurat : 10)

Kalimat “Kawin beda agama hambatannya bukan theologi, melaikan sosial”, pernyataan tersebut merupakan tindakan yang mencampakkan Al Qur’an. Secara lahiriah orangnya patut diwaspadai karena dapat disimpulkan bahwa dia telah menjadikan pranata sosial lebih itnggi derajatnya daripada hukum-hukum Alloh.

“Dalam pemikiran hukum Islam dibedakan antara wilayah ibadah dan muamalah. Wilayah ibadah sudah diatur secara detil. Semua tata cara ibadah harus sesuai dengan ketentuan agama. Misalnya sholat, jumlah roka’atnya tak bisa ditambah. Tetapi muamalah itu progresif dan dinamis, sesuai dengan perkembangan manusia, sedangkan hukum tuhan yang diibaratkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tak pernah ada walaupun pernah diterapkan pada masa nabi, hanya berlaku pada saat itu saja. Misalnya potong tangan, qishosh dan rajam ini praktek yang lahir karena pengaruh kultur arab. Yang terpenting dalam hukum adalah mencakup lima pokok kemaslahatan (maqoshidusy syari’ah), yaitu yang menjaga jiwa, akal, agama, harta, dan kehormatan. Misalnya perlindungan akal diwujudkan dalam bentuk pelarangan minuman keras (khamar). Jadi, haramnya khamar itu bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin.” (Majalah Gatra, 21 desember 2002)

Jawaban :

Kalimat “sedangkan hukum tuhan yang diibaratkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tak pernah ada walaupun pernah diterapkan pada masa nabi, hanya berlaku pada saat itu saja. Misalnya potong tangan, qishosh dan rajam ini praktek yang lahir karena pengaruh kultur arab”.

Innaa lillahi wa inna ilahi rooji’un. Apa pendapat anda terhadap pernyataan di atas? Label apa yang pantas kita berikan kepada orangyang mengatakannya?. Bukankah Al Qur’an telah menjelaskan bahwa “masuklah ke dalam Islam secara kaffah” (QS Al Baqarah : 208). Al Qur’an sendiri telah menyatakan kafir, fasik dan zalim bagi orang yang tidak berhukum dengan hukum-hukum Alloh. Potong tangan, qishash, rajam dan sejenisnya itu adalah hukum-hukum Alloh, bukan kultur arab semata dan hukum-hukum tersebut terdapat dalam taurot dan injil (yang asli).

Kalimat “Jadi, haramnya khamar itu bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin”. Ketahuilah bahwa sumber hukum Islam bukanlah akal, tetapi wahyu, dan wahyu berada jauh dalam ranah akal. Akal yang dikaruniakan Alloh janganlah digunakan untuk menghantam Al Qur’an. Logika berfikir tentang keharaman vodka bersifat sekunder karena cuaca dingin itu amburadul. Mari kita lihat logika yang sama. Zina itu haram hukumnya dalam segala kondisi, lalu apakah zina jadi halal ketika kita berada di puncak karena cuaca dingin? (tidak perlu dijawab, anda cukup tersenyum saja, itu sudah sangat memuaskan bagi kami)
Cara JIL Mengambil Dan Menafsirkan Ayat

Sehubungan dengan tujuan JIL yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, maka jelas, metode penafsiran yang digunakan oleh mereka sekenanya untuk mendukung faham yang mereka usung. Ingatlah firman Alloh bahwa orang yang dalam hatinya condonmg kepada kesesatan, mereka lebih memilih ayat-ayat yang mutasyabihat.
{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ} [آل عمران: 7]

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. (QS Ali Imran : 7)

Mereka adalah orang-orang yang tidak ‘fair’ dalam mengambil ayat dan menjelaskannya kepada umat. Disamping itu mereka tidak melakukan perbandingan dengan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan pembicaraan yang sedang dikupas. Perilaku tersebut mirip orang-orang kafir terdahulu, sebagaimana firman-Nya :
{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [البقرة: 146]

Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS Al Baqarah : 146)
{ إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ} [البقرة: 159]

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati oleh semua yang dapat mela’nati, (QS Al Baqarah : 159)
{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [آل عمران: 71]

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil , dan menyembunyikan kebenaran , padahal kamu mengetahuinya? (QS Ali Imran : 71)
Para Donatur JIL

LSM (Berbau Islam) Di Indonesia Yang Bekerjasama Dengan Barat

Sinyalemen Al Qur’an Tentang Karakter Para Tokoh JIL

1. Sesudah kebenaran adalah kesesatan
{فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ} [يونس: 32]

Maka itulah Alloh Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan ?
2. Mengambil orang kafir sebagai teman, pemimpin
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu mereka tidak henti-hentinya kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat , jika kamu memahaminya.

3. tidak akan bersatu antara keimanan dengan kekafiran

4. menukar ayat-ayat Alloh dnegan harga yang murah
{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ} [آل عمران: 187]

Dan , ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab : “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.

5. mencegah manusia untuk beriman kepada Alloh
{ وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا} [الإسراء: 94]

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Alloh mengutus seorang manusia menjadi rasul?”

6. Fasik dalam membawa berita
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} [الحجرات: 6]

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat : 6)

Daftar pustaka/Maraji’:

1. Departemen Agama RI. 1989. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. Depag RI. Jakarta

2. Hartono Ahmad Jaiz. 2004. Aliran Dan Faham Sesat Di Indonesia. Pustaka Al Kautsar. Jakarta

3. Hartono Ahmad Jaiz. 2005. Menangkal Bahaya Jil & Fla. Pustaka Al Kautsar. Jakarta

4. Hartono Ahmad Jaiz. 2006. Tarekat Tasawuf Tahlilan & Maulidan. Wacana Ilmiah Press. Solo

5. Hartono Ahmad Jaiz. 2004. Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama (FLA). Pustaka Al Kautsar. Jakarta

6. Imam Ahmad bin Hambal. 2000. Pokok-pokok Aqidah Ahlus Sunnah. Al-Mubarak. Cileungsi-Bogor.

7. Nancy Snow. 2003. Propaganda, Inc. edisi Kedua, Menjual Budaya Amerika ke Dunia. Opini. Jakarta

8. Dakhilullah bin Bakhiit Al-Matharafy. Peringatan Maulid Bid’ah Atau Sunnah?. Pustaka At-Tibyan. Solo

9. Fadh Abdurrahman Asy Syamiry. 2002. Ta’ziah. Darul Qolam. Jakarta

10. DR. Abdullah Al-Khaathir. 2001. Godaan Setan pada orang-orang shaleh. Pustaka At-Tibyan. Solo

11. Syaikh Abdurrahman Abdul Khalik. 1992. Garis Pemisah Antara Muslim Dan Kafir. CV. Firdaus. Jakarta

12. Hartono Ahmad Jaiz. 2005. Jejak Tokoh Islam Dalam Kristenisasi. Darul Falah. Jakarta

13. Adian Husaini. 2002. Islam Liberal. Adian Husaini. GIP. Jakarta

14. Adian Husaini. 2002. Penyestan Opini. GIP. Jakarta

15. Ahmed Deedat. 1999. The Choice, Dialog Islam Kristen, Pustaka Al Kautsar. Jakarta

16. Irena Handono, Et Al. 2004. Islam Dihujat. Bima Rodheta. Kudus

17. Drs. H. Toto Tasmara. 1999. Dajal Dan Simbol-Simbol Setan. GIP. Jakarta

18. Dr. Muhammad Ali al Khuli. 2004. Kebenaran hakiki Ajaran Yesus. Pustaka Da’i. Jakarta

19. Ahmad Husnan. 2005. Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim. Al Husna. Surakarta

20. Hindun Al Mubarak. 2005. Langit Merah Di Atas Salib. Imanuel Press. Jakarta

21. Abu Deedat Syihab. 2005. Membongkar Gerakan Pemurtadan Umat Islam. Pustaka Tazkia Az Azhra. Jakarta

22. Nurcholis Madjid, Dkk. 2003. Fiqih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. Yayasan Wakaf Paramadina Bekerjasama Dengan The Asia Foundation. Jakarta, dll.

*
[1] Bukhori – Muslim, Kitab jamiush Shahis, hadist no 32

[2] Adian Husaini, Islam Liberal, Hal 4 – 7

[3] adian husaini, Islam liberal, hal 7 – 8

[4] Toto Tasmara, dajal dan simbol-simbol setan

[5] adian husaini, penyesatan opini



Sumber :
http://www.nahimunkar.com/menyibak-sepak-terjang-jaringan-islam-liberal-jil-di-indonesia/#sthash.PzrsKIQE.dpuf

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites