Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Maret 2014

Sekilas tentang buku "Zionis dan Syiah bersatu hantam Islam"

Sekilas tentang buku "Zionis dan Syiah bersatu hantam Islam"

Dulu orang masing mengira bahwa Iran adalah negara terdepan dalam melawan Zionisme Yahudi. Namun Buku Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam punya fakta sebaliknya. Keduanya tampak di luar bermusuhan, tapi di bawah meja saling bersalaman.

Antara tahun 1962 sampai kejatuhan Syah Pahlevi pada tahun 1979, intelijen Israel melakukan kontak kuat dengan banyak petugas Iran yang dilatih oleh militer Israel. Rezim Khomeini menghabiskan dana hingga 500 juta US Dollar guna membeli peralatan perang dari Israel sepanjang tahun 1980 hingga 1983. Bahkan keduanya terlibat secara bersamaan dalam menyerang reaktor nuklir Irak pada tahun 1981. Tidak heran di Iran ada perpustakaan Yahudi dengan foto Khomeini di dalamnya.

Romantisme Syiah dan Zionis terus berlanjut hingga invasi Amerika Serikat pada tahun 2003. Brigade Sadr adalah milisi Syiah yang melindungi tentara George Bush dari Kuwait menuju Baghdad melewati gurun pasir An-Nashiriyah. Maka tidaklah aneh jika Ali As Sistani (Ulama Syiah Irak) yang biasanya lantang menyuarakan perang atas invasi Israel tapi melarang jihad melawan hegemoni Amerika Serikat di Irak. Itulah skandal sejarah yang dilakukan oleh sumber Syiah tertinggi di negeri 1001 malam itu.

Buku ini menjadi sebuah rujukan otoritatif dalam membuka mata umat tentang relasi Syiah dan Zionis yang dilakukan dari waktu ke waktu. Semuanya dibongkar dari mulai Iran, Irak, Suriah, Hizbullah hingga potret penindasan sistematis terhadap Ahlussunah di negara Syiah terbesar di dunia.

Ditulis oleh seorang Jurnalis Islam yang menekuni kajian Zionisme Internasional dan dijabarkan dengan gaya menulis yang enak dibaca. Sangat kaya data dan fakta demi menyadarkan umat bahwa musuh umat Islam sejatinya bukan saja Zionis, tapi juga Syiah. Semoga bermanfaat!

Endorsment tokoh

“Saat ini semakin terlihat dan terbukti kolaborasi Syiah dengan zionis memerangi islam. Hal ini sudah lumrah, karena syiah adalah ciptaan zionis (yahudi) untuk memecah belah dan menghan-curkan Islam dari dalam. Syiah menjadi alat Yahudi zionis untuk mengacaukan kemurnian ajaran Islam. Syiah diciptakan oleh Abdullah bin Saba’ orang yahudi yg pura-pura masuk Islam, dgn tujuan memecah belah umat Islam dalam rangka menghancurkan Islam dengan kedok pembelaan terhadap ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam. Umat Islam harus mewaspadai mereka dan memas-tikan bahwa Islam yang dilaksanakan adalah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wassalam.” - Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (hafizahullah)

“Selama ini opini berhembus bahwa Syiah dan Zionis adalah dua kelompok yang saling bertikai. Namun buku ini memberikan perspektif baru dalam melihat fakta yang sebenarnya bahwa pada satu titik mereka dapat bersama melawan umat Islam. Selain itu buku ini sangat menarik karena mengetengahkan data-data mutakhir terkait upaya Zionisme menyongsong akhir zaman. Umat Islam harus membacanya.” - DR. Adhyaksa Dault (Mantan Menpora RI)

“Buku Dahsyat yg mengurai secara rinci seluk beluk musuh musuh Islam. Dengan membaca buku ini semoga pembaca memperoleh informasi dari penulis tentang konstalasi musuh musuh islam yang menggunakan cara tersamar. Penting bagi umat islam terutama para pemudanya untuk melek informasi mengenai kekuatan musuh islam dan modus operandinya dalam merusak akidah sehingga bisa mengambil pelajaran untuk memperjuangkan Islam berdasarkan manhaj nabi” - Munarman SH (Ketua An-Nashr Institute, Lembaga Kajian Strategis)

“Pencetus Syiah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’, seperti pengakuan ulama Syiah An Nubakhti dalam kitabnyaFIrakusysyiah. Dalam ajarannya banyak yg mirip Yahudi begitu pula gerakannya mirip dengan zionisme makanya tidak heran kalau terungkap skandal IRAN GATE kerja sama jual beli senjata Yahudi, Amereka dan Iran.” - Ustadz Farid Achmad Okbah (Pengamat Syiah)

Kapan buku ini akan terbit?

Buku Zionis dan Syiah bersatu hantam Islam ini diperkirakan terbit pada pertengahan juni ini, namun menurut penerbit Arrahmah Publishing, buku ini akan mundur sedikit dari jadwal yang telah ditentukan, disebabkan masalah teknis. Insya Allah, buku ini akan hadir ditangan pembaca sebelum hadirnya bulan yang penuh berkah Ramadhan nanti. Mohon doa dan support dari kaum muslimin, semoga bisa segera selesai dan dimudahkan Allah, insya Allah.

Tentang Buku;

Judul: Zionis dan Syiah bersatu hantam Islam
Penulis: Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi
Penerbit: Arrahmah Publishing
Halaman: 448 hal
Harga Pekiraan; Rp. 120 rbSumber: 
http://www.arrahmah.com/rubrik/sekilas-tentang-buku-zionis-dan-syiah-bersatu-hantam-islam.html#sthash.H4Rg79Lm.dpuf

Menyibak Sepak Terjang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia

Menyibak Sepak Terjang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia

Oleh : Muhammad Faisal, SPd. M.MPd

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat)

Bismillahirrohmannirrohiem
Pertengahan tahun 2001, nama Jaringan Islam Liberal (JIL) mulai dikenal di Indonesia, nama tersebut mulai hangat diperbincangkan khususnya kaum muslimin Indonesia, dengan semboyan yang menawan “Islam yang membebaskan” mereka berhasil menarik perhatian banyak orang, baik yang pro maupun yang kontra.

Sebenarnya sudah banyak komentar yang diberikan terhadap statemen-statemen yang dikeluarkan oleh JIL. Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa JIL hanyalah sekelompok orang yang kondisinya seperti seekor kucing yang sedang bangkit libidonya, mengeong keras sehingga memekakkan telinga dan menjengkelkan. Sebagian yang lain berkata bahwa pernyataan-pernyataan JIL tidak perlu dikomentari, karena akan semakin besar kepala. Tetapi apakah dibenarkan jika seorang muslim membiarkan kemunkaran..?, padahal Rasululloh telah bersabda :
صحيح مسلم ـ مشكول وموافق للمطبوع (1/ 50)
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

“Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuasaan). Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman”[1]
Sekilas tentang JIL di Indonesia

Markas JIL yang berkantor di Jl. Utan Kayu 68 H Rawamangun, itu juga adalah markas ISAI yang banyak menerbitkan buku-buku kiri (sebagain berisi pembelaan terhadap PKI dan tokoh-tokohnya). Di markas itu juga sering diadakan diskusi-diskusi, drama, teater dan lain-lain. Tokoh penggerak dan donatur utama markas 68H itu adalah Goenawan Mohamad. Sedangkan kantor berita radio 68H, salah satu penggagas utamanya adalah Andreas H (pengikut kristen), mantan wartawan Jakarta Pos. kegiatan awalnya dilakukan dengan menggelar kelompok diskusi maya (milis) yang tergabung dalamIslamliberal@yahoogropus.com selain menyebarkan gagasannya lewat web sitehttp://www.Islamlib.com. Pengelolal JIL ini dikomandoi oleh beberapa pemikir muda, seperti Luthfie Assyaukanie (Universitas Paramadina Mulya), Ulil Absor Abdala (LakPesDam NU), dan Ahmad Sahal (jurnal kalam). JIL yang bekerjasama dengan para intelektual, penulis dan akademisi dalam dan luar negeri untuk menjadi kontributornya. Mereka adalah:

1. Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina Mulya

2. Charles Kurzman, Universitas Of North Carolina

3. Azyumardi Azra, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

4. AbdAlloh Laroui, Muhammad V University, Maroko

5. Masdar F. Mas’udi, Pusat Pengembangan Pesantren Dan Masyarakat, Jakarta

6. Goenawan Mohamad, Majalah Tempo, Jakarta

7. Edwan Said

8. Djohan Efendi, Deakin University, Australia

9. Abdullahi Ahmad An-Naim, University Of Khortum, Sudan

10. Jalaluddin Rahmat, Yayasan Muthahhari, Bandung

11. Asghar Ali Engineer

12. Nasaruddin Umar, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

13. Muhammed Arkoun, University Of Sorbonne, Prancis

14. Komaruddin Hidayat, Yayasan Paramadina, Jakarta

15. Sadeq Jalal Azam, Damascus University, Suriah

16. Said Agil Siraj, PBNU, Jakarta

17. Denny JA, Universitas Jayabaya, Jakarta

18. Rijal Mallarangeng, CSIS, Jakarta

19. Budi Munawwar Rahman, Yayasan Paramadina, Jakarta

20. Ihsan Ali Fauzi, Ohio University, AS

21. Taufik Adnan Amal, IAIN Alaudin, Ujung Pandang

22. Hamid Basyaib, Yayasan Aksara, Jakarta

23. Ulil Abshar Abdala, Lakpesdam-NU, Jakarta

24. Luthfie Assyaukanie, Universitas Paramadina Mulya, Jakarta

25. Saiful Mujani, Ohio State University, AS

26. Ade Armando, Universitas Indonesia, Depok

27. Syamsurizal Panggabean, Universitas Gadjahmada, Yogyakarta

Selain tokoh-tokoh di atas, beberapa tokoh Muhamadiyah juga ikut andil dalam mendukung gagasan JIL seperti Abdul Munir Mulkan dan Sukidi, bahkan ketua PP muhamadiyah, Syafii Maarif juga dapat dikatagorikan ke dalam pendukung gagasan Islam liberal, sebagaimana kita ketahui bahwa Maarif adalah pendukung gagasan liberal (neomodernisasi) Fazlur Rahman, ia juga dikenal getol dalam menolak dikembalikannya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi.

Di samping aktif menyebarkan gagasannya di internet, radio, majalah dan sebagainya, mereka juga menerbitkan jurnal dengan nama Tashwirul Afkar (gambaran pemikiran –pen) yang dikomandoi oleh Ulil Abshar abdala (pemred), jurnal yang terbit empat bulan ini resmi dibawahi oleh lakpesdam-NU (Lembaga Kajian Dan Pengembangan SDM) berkerjasama dengan The Asia Foundation (lembaga keuangan di asia yang dimiliki oleh orang-orang kriten). Wajah liberal jurnal ini terlihat pada terbitan edisi 11/2001 yang menampilkan tema “Menuju Pendidikan Islam Pluralis”.

Kamami Zada, salah satu redaktur pelaksananya, mengkritik pendidikan Islam yang hanya membenarkan agama Islam saja, ia berkata “filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman-kafir, muslim-nonmuslim, dan baik benar (Truth Claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar, agar umat Islam tidak lagi mengangap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan.”[2]
Tujuan JIL

Suatu gerakan biasanya memulai prioritas aktivitasnya dengan mempresentasikan terlebih dahulu apa yang menjadi musuh dan ancamannya. Tanpa tendeng aling-aling JIL menyatakan

1. Gerakannya bertujuan untuk melawan atau menghambat gerakan Islam militan atau Islam fundamentalis
2. Menghambat kelompok-kelompok yang berjuang untuk menerapkan syari’at Islam secara kaffah dalam kehidupan
3. JIL merusmuskan tujuan gerakannya kedalam empat hal:
1. Memperkokoh landasan demokratisasi lewat penanaman nilai-nilai pluralisme, inklusivisme, dan humanisme (semuanya ini merupakan doktrin-doktrin Yahudi dan AS –pen)
2. Membangun kehidupan keberagamaan yang berdasarkan pada penghormatan atas perbedaan (hal ini sejalan dengan deklarasi HAM PBB yang disponsori oleh AS dan barat dimana jaminan HAM hanya diberikan kepada negara-negara yang ikut menandatangi perjanjian saja, sedangkan di luar itu tidak menjadapat jamian HAM – pen)
3. Mendukung dan menyebarkan gagasan keagamaan yang pluralis, terbuka dan humanis
4. Mencegah agar pandangan-pandangan keagamaan yang militan dan pro-kekerasan tidak menguasai wacana publik Hal ini pula yang merupakan ketakutan AS dan barat atas Islam (Islamophobia -pen)[3]

Melihat wacana yang diusung oleh JIL yang dirumuskan dalam tujuan gerakannya, hal ini mirip sekali dengan semua gagasan dan tujuan yang didengungkan oleh AS dan barat yang Islamophobia, paranoid, di sisi lain hal ini sejalan dengan proyek besar freemansonry (organisasi rahasia kaum yahudi yang ingin menguasai dunia untuk menghancurkan umat beragama terutama menghancurkan Islam).[4] Metode yang mereka lakukan untuk menghantam Islam bukan lagi dengan cara kontak fisik (ofensif), karena mereka telah belajar dari pengalaman (perang salib) bahwa dengan perang, umat Islam yang paling tololpun akan bangkit jiwa jihadnya. Metode terbaru yang mereka lakukan adalah dengan perang pemikiran (Ghazwul Fikri), dimana umat Islam digiring ke dalam lembah pemikiran tentang Islam yang labil diambil dari dua sumber utamanya yaitu Al Qur’an dan sunnah agar umat menjadi bingung, membelot, ragu-ragu, atau paling tidak diberangus semangat jihadnya.

Berbagai cara yang dilakukan barat antara lain dengan memberikan label-label miring terhadap partai-partai atau organisasi yang berbau Islam dengan nama “militan”, “radikal”, “garis keras”, “fundamentalis”, “teroris”, dan opini menyesatkan lainnya sehingga umat Islam ketakutan ketika akan menjalankan syari’atnya. Hal ini diperparah pula dengan intervensi asing di negara tercinta yang mayoritas penduduknya muslim dengan tekanan ekonomi (World Bank, IMF), politik (pemaksaan diberlakukannya demokrasi oleh AS dan barat, sehingga negara yang menolaknya dimasukkan kedalam negara yang otoriter, tiran dan konotasi negatif lainnya), militer (dengan berbagai bentuk embargo senjata) termasuk dimensi kebudayaan yang dampak negatifnya cukup signifikan (seperti pornografi, pornoaksi, life style, dan kebebasan pers yang berlindung di bawah ketiak demokrasi dan HAM).[5]
Statemen-Statemen Para Tokoh JIL Dan Jawabannya

Pernyatan-pernyataan Nurcholis Madjid

1. Semua agama sama (wihdatul adyan), menuju keselamatan. Yahudi, Kristen, Islam dan agama apa saja adalah sama.

2. Iblis dan fir’aun akan masuk surga (karena iblis memurnikan penyembahan hanya kepada Alah saja, tidak mau kepada adam)

Komentar:

Entah apa yang ada dalam pikiran Nurcholis Madjid dengan mengatakan bahwa iblis akan masuk surga, padahal Alloh telah menyatakan dalam Al Qur’an lebih dari 10 ayat tentang kekafiran perbuatan iblis yang tidak tunduk dan patuh terhadap perintah Alloh untuk sujud (memberi penghormatan) kepada adam. Iblis adalah makhluk Alahyang sombong, terkutuk, dilaknat dan sebagainya. Lalu akankah mahluk terkutuk masuk surga, pikiran yang sangat aneh. Setiap orang muslim yang awampun akan berkata “sungguh mengherankan” pikiran cendikiawan muslim ini.

3. Manusia menyatu (melebur) dengan Tuhan saat mengucapkan “wa iyyaka nasta’in” (dalam surat al fatihah)

Komentar:

Ayat dalam surat Al fatihah ini sudah sangat jelas, ada objek ada subjek, ada hamba ada kholik, ada mahluk ada pencipta. Tetapi mengapa Nurcholis Madjid mengatakan bahwa manusia melebur dengan Tuhan ketika membaca ayat IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN”. Dan yang terpenting, ayat di atas adalah ayat tentang keimanan, akidah yang wajib dipatuhi. Konsepsi penafsiran seperti ini jelas berasal dari tasawuf yang sesat (yang berpijakpada pemikiran ibnu arabi) yang menyakini bahwa mahluk itu adalah Tuhan itu sendiri, dan segala yang ada di dunia ini adalah perwujudan dari Tuhan. Oleh karena itu mereka mengangap bahwa penyembahan terhadap berhala merupakan bentuk penyembahan terhadap Tuhan, karena berhala itu adalah Tuhan juga. Pemikiran mana yang membenarkan logika sesat seperti ini.

4. Tidak boleh memandang salah terhadap keyakinan orang lain dengan berpatokan pada agama yang kita anut, karena vonis sesat hanya hak Alah semata.

Komentar:

Ini adalah salah satu cara mereka untuk melanggengkan paham yang mereka sebarkan. Hal ini pula yang melemahkan motivasi umat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan pernyataan tersebut beberap ayat Al Qur’an mereka dicampakkan, yaitu membiarkan kesesatan dan kemunkaran (Ali Imran : 104, 110,114). Pernyataan bahwa vonis sesat adalah hanya hak Alloh ini pun termasuk sesat, karena di jaman rasul ada dua orang yang berselisih, maka urusan itu diadukan kepada Rasululloh lalu Beliau memberikan keputusan berdasarkan Al Qur’an. Ternyata salah seorang diantara mereka tidak menerima keputusan tersebut akhirnya dia mengadukan kepada Umar. Ketika tiba di rumah Umar mereka menceritakan perselisihan yang mereka alami, lalu Umar berkata “Tunggulah disini, kalian jangan kemana-mana”, ternyata Umar masuk ke dalam rumahnya untuk mengambilpedang, lalu Ia membunuh orangyang tidak puas atas keputusan Rasul. Setelah peristiwa itu disampaikan kepada rasul, lalu Rasul berkata “Tidak mungkin Umar akan membunuh seorang muslim”, sabda Beliau ini artinya bahwa yang dibunuh Umar bukan lagi dianggap sebagai seorang muslim, tindakan umar ini didasarkan pada firman Alloh “

5. Ajaran Islam sudah tidak cocok digunakan pada kehidupan masyarakat modern. Yang lebih cocok adalah cara pandang dan berfikir orang barat

6. Makna “La ilaha illAlloh “ adalah tiada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar)

7. Menganjurkan agar umat Islam membaca dan mempelajari kitab-kitab suci terdahulu

8. Menganjurkan agar kita memiliki sifat sombong (AL Mutakabbir), salah satu sifat Alloh, hanya sebatas “Harga Diri”

Pernyatan-pernyataan Ulil Absor Abdala.

“Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar. Pemahaman serupa sudah terjadi di kristen selama berabad-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar gereja. Baru pada 1965 masehi, gereja katolik di vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam, yang berusia 1.423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik.”

Jawaban:

Telah jelas bagi kita bahwa semua agama itu berbeda (walaupun dilihat secara definisi mungkin tujuannya sama). Contohnya dalam konsep theologi yahudi, nasrani dan Islam jelas beda. Orang yahudi meyakini bahwa Uzair adalah anak Alloh, begitupun orang nasrani mempercayai bahwa Isa adalah anak Alloh, sedangkan Islam meyakini bahwa Alloh tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (QS al ikhlash). Perhatikanlah firman Alloh:
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ} [التوبة: 30]

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Alloh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Alloh”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS At Taubah : 30)

Alloh mengecam keyakinan-keyakinan tersebut, bahkan dinyatakan sebagai ucapan orang-orang terdahulu yang kafir. Disamping itu Alloh juga menjelaskan bahwa mereka (yahudi dan nasrani) menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan yang mempunyai otoritas untuk menyatakan halal atau haram terhadap sesuatu, sedangkan umat Islam meyakini bahwa otoritas untuk menentukan halal dan haram hanya hak Alloh semata yang disampaikan melalui rasul-Nya. Perhatikanlah firman Alloh:
{ اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ } [التوبة: 31]

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh dan Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan. (QS At Taubah : 31)

Kalimat “Islam bukan yang paling benar” yang diungkapkan oleh Ulil yang justru beragama Islam merupakan sebentuk kerapuhan dalam keyakinan terhadap Islam itu sendiri. Oleh karena itu pantaskan kita mendengarkan perkataan orang yang ragu dalam aqidahnya..?, padahal Alloh telah berfirman agar kita jangan termasuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran agama Islam, sebagaimana firman-Nya:
{أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ } [الأنعام: 114]

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Alloh, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quraan itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.(QS Al An’am : 114)

Kalimat “Sedangkan Islam, yang berusia 1.423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti katolik”. Ini adalah sebuah bentuk anjuran napak tilas terhadap jejak langkah orang-orang nasrani. Umat Islam sama sekali tidak membutuhkan jejak mereka, terlebih jika kita tahu bahwa “kedewasaan umat nasrani” yang merevisi doktrin kebenaran hanya ada di tangan gereja semata itu terjadi karena adanya tekanan dari pihak penguasa yang menginginkan konsep sekularisme (pemisahan antara negara dengan agama). Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kita tidak butuh konsep mereka dan tidak patut kita menirunya. Itulah sebabnya bahwa semua agama adalah beda. Islam mempunyai konsepsi tersendiri dalam berbangsa dan bernegara. Jika kita menyakini bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang patut dijadikan pedoman hidup, petunjuk jalan yang mengantarkan manusia pada kebahagian dunia dan akhirat, maka mengapa kita menjadikan orang-orang non muslim sebagai barometer. Mereka tidak akan pernah mau menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Bukankah Al Qur’an telah menjelaskan bahwa barang siapa yang berhukum bukan dengan hukum-hukum Alloh, maka dia adalah zalim, kafir dan fasik, sebagaimana firman-Nya:
{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [المائدة: 45]

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS Al Maidah : 45)
{وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [المائدة: 47]

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS Al Maidah : 47)

“Larangan kawin beda agama bersifat kontekstual. Pada zaman nabi, umat Islam sedang bersaing untuk memperbanyak umat. Nah, saat ini Islam sudah semilyar lebih, kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam. Islam sendiri sebenarnya sudah mencapai kemajuan kala itu, memperbolehkan laki-laki muslim kawin dengan wanita ahli kitab. Ahli kitab hingga saat ini masih ada, malah, agama-agama selain nasrani dan yahudi pun bisa disebut ahli kitab. Kawin beda agama hambatannya bukan theologi, melaikan sosial.” (Majalah Gatra, 21 desember 2002)

Jawaban :

Kalimat “larangan kawin beda agama bersifat kontekstual”, ini adalah ungkapan orang yang jahil dalam ulumul qur’an. Ayat ini tidak pernah dinasakh oleh ayat lain, jadi harus dipahami keumuman ayatnya, bukan dengan kekhususan sebab turunnya. Secara faktual Al Qur’an telah melarang umat Islam untuk menikah dengan orang yang berbeda agama, sebagaimana firman-Nya:
{وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [البقرة: 221]

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS Al Baqarah : 221)

Kalimat “kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam”, ungkapan tersebut menunjukkan bentuk pengingkaran dan kesombongan terhadap Rabb. Setelah dengan jelas diharamkan menikah dengan orang kafir sebagaimana ayat di atas, mengapa masih ada orang yang menganjurkan agar umat Islam jangan takut menikah dengan orang non muslim, padahal berulang kali Alloh menyatakan “takutlah kamu terhadap tuhan-Mu” (QS Ali Imran : 175, Al Maidah : 3, 44, Al Hujurat : 10)

Kalimat “Kawin beda agama hambatannya bukan theologi, melaikan sosial”, pernyataan tersebut merupakan tindakan yang mencampakkan Al Qur’an. Secara lahiriah orangnya patut diwaspadai karena dapat disimpulkan bahwa dia telah menjadikan pranata sosial lebih itnggi derajatnya daripada hukum-hukum Alloh.

“Dalam pemikiran hukum Islam dibedakan antara wilayah ibadah dan muamalah. Wilayah ibadah sudah diatur secara detil. Semua tata cara ibadah harus sesuai dengan ketentuan agama. Misalnya sholat, jumlah roka’atnya tak bisa ditambah. Tetapi muamalah itu progresif dan dinamis, sesuai dengan perkembangan manusia, sedangkan hukum tuhan yang diibaratkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tak pernah ada walaupun pernah diterapkan pada masa nabi, hanya berlaku pada saat itu saja. Misalnya potong tangan, qishosh dan rajam ini praktek yang lahir karena pengaruh kultur arab. Yang terpenting dalam hukum adalah mencakup lima pokok kemaslahatan (maqoshidusy syari’ah), yaitu yang menjaga jiwa, akal, agama, harta, dan kehormatan. Misalnya perlindungan akal diwujudkan dalam bentuk pelarangan minuman keras (khamar). Jadi, haramnya khamar itu bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin.” (Majalah Gatra, 21 desember 2002)

Jawaban :

Kalimat “sedangkan hukum tuhan yang diibaratkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) tak pernah ada walaupun pernah diterapkan pada masa nabi, hanya berlaku pada saat itu saja. Misalnya potong tangan, qishosh dan rajam ini praktek yang lahir karena pengaruh kultur arab”.

Innaa lillahi wa inna ilahi rooji’un. Apa pendapat anda terhadap pernyataan di atas? Label apa yang pantas kita berikan kepada orangyang mengatakannya?. Bukankah Al Qur’an telah menjelaskan bahwa “masuklah ke dalam Islam secara kaffah” (QS Al Baqarah : 208). Al Qur’an sendiri telah menyatakan kafir, fasik dan zalim bagi orang yang tidak berhukum dengan hukum-hukum Alloh. Potong tangan, qishash, rajam dan sejenisnya itu adalah hukum-hukum Alloh, bukan kultur arab semata dan hukum-hukum tersebut terdapat dalam taurot dan injil (yang asli).

Kalimat “Jadi, haramnya khamar itu bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin”. Ketahuilah bahwa sumber hukum Islam bukanlah akal, tetapi wahyu, dan wahyu berada jauh dalam ranah akal. Akal yang dikaruniakan Alloh janganlah digunakan untuk menghantam Al Qur’an. Logika berfikir tentang keharaman vodka bersifat sekunder karena cuaca dingin itu amburadul. Mari kita lihat logika yang sama. Zina itu haram hukumnya dalam segala kondisi, lalu apakah zina jadi halal ketika kita berada di puncak karena cuaca dingin? (tidak perlu dijawab, anda cukup tersenyum saja, itu sudah sangat memuaskan bagi kami)
Cara JIL Mengambil Dan Menafsirkan Ayat

Sehubungan dengan tujuan JIL yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, maka jelas, metode penafsiran yang digunakan oleh mereka sekenanya untuk mendukung faham yang mereka usung. Ingatlah firman Alloh bahwa orang yang dalam hatinya condonmg kepada kesesatan, mereka lebih memilih ayat-ayat yang mutasyabihat.
{فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ} [آل عمران: 7]

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. (QS Ali Imran : 7)

Mereka adalah orang-orang yang tidak ‘fair’ dalam mengambil ayat dan menjelaskannya kepada umat. Disamping itu mereka tidak melakukan perbandingan dengan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan pembicaraan yang sedang dikupas. Perilaku tersebut mirip orang-orang kafir terdahulu, sebagaimana firman-Nya :
{الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [البقرة: 146]

Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS Al Baqarah : 146)
{ إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ} [البقرة: 159]

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati oleh semua yang dapat mela’nati, (QS Al Baqarah : 159)
{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [آل عمران: 71]

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil , dan menyembunyikan kebenaran , padahal kamu mengetahuinya? (QS Ali Imran : 71)
Para Donatur JIL

LSM (Berbau Islam) Di Indonesia Yang Bekerjasama Dengan Barat

Sinyalemen Al Qur’an Tentang Karakter Para Tokoh JIL

1. Sesudah kebenaran adalah kesesatan
{فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ} [يونس: 32]

Maka itulah Alloh Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan ?
2. Mengambil orang kafir sebagai teman, pemimpin
{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu mereka tidak henti-hentinya kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat , jika kamu memahaminya.

3. tidak akan bersatu antara keimanan dengan kekafiran

4. menukar ayat-ayat Alloh dnegan harga yang murah
{وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ} [آل عمران: 187]

Dan , ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab : “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.

5. mencegah manusia untuk beriman kepada Alloh
{ وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا} [الإسراء: 94]

Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: “Adakah Alloh mengutus seorang manusia menjadi rasul?”

6. Fasik dalam membawa berita
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ} [الحجرات: 6]

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS Al Hujurat : 6)

Daftar pustaka/Maraji’:

1. Departemen Agama RI. 1989. Al-Qur’an Dan Terjemahannya. Depag RI. Jakarta

2. Hartono Ahmad Jaiz. 2004. Aliran Dan Faham Sesat Di Indonesia. Pustaka Al Kautsar. Jakarta

3. Hartono Ahmad Jaiz. 2005. Menangkal Bahaya Jil & Fla. Pustaka Al Kautsar. Jakarta

4. Hartono Ahmad Jaiz. 2006. Tarekat Tasawuf Tahlilan & Maulidan. Wacana Ilmiah Press. Solo

5. Hartono Ahmad Jaiz. 2004. Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama (FLA). Pustaka Al Kautsar. Jakarta

6. Imam Ahmad bin Hambal. 2000. Pokok-pokok Aqidah Ahlus Sunnah. Al-Mubarak. Cileungsi-Bogor.

7. Nancy Snow. 2003. Propaganda, Inc. edisi Kedua, Menjual Budaya Amerika ke Dunia. Opini. Jakarta

8. Dakhilullah bin Bakhiit Al-Matharafy. Peringatan Maulid Bid’ah Atau Sunnah?. Pustaka At-Tibyan. Solo

9. Fadh Abdurrahman Asy Syamiry. 2002. Ta’ziah. Darul Qolam. Jakarta

10. DR. Abdullah Al-Khaathir. 2001. Godaan Setan pada orang-orang shaleh. Pustaka At-Tibyan. Solo

11. Syaikh Abdurrahman Abdul Khalik. 1992. Garis Pemisah Antara Muslim Dan Kafir. CV. Firdaus. Jakarta

12. Hartono Ahmad Jaiz. 2005. Jejak Tokoh Islam Dalam Kristenisasi. Darul Falah. Jakarta

13. Adian Husaini. 2002. Islam Liberal. Adian Husaini. GIP. Jakarta

14. Adian Husaini. 2002. Penyestan Opini. GIP. Jakarta

15. Ahmed Deedat. 1999. The Choice, Dialog Islam Kristen, Pustaka Al Kautsar. Jakarta

16. Irena Handono, Et Al. 2004. Islam Dihujat. Bima Rodheta. Kudus

17. Drs. H. Toto Tasmara. 1999. Dajal Dan Simbol-Simbol Setan. GIP. Jakarta

18. Dr. Muhammad Ali al Khuli. 2004. Kebenaran hakiki Ajaran Yesus. Pustaka Da’i. Jakarta

19. Ahmad Husnan. 2005. Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim. Al Husna. Surakarta

20. Hindun Al Mubarak. 2005. Langit Merah Di Atas Salib. Imanuel Press. Jakarta

21. Abu Deedat Syihab. 2005. Membongkar Gerakan Pemurtadan Umat Islam. Pustaka Tazkia Az Azhra. Jakarta

22. Nurcholis Madjid, Dkk. 2003. Fiqih Lintas Agama Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis. Yayasan Wakaf Paramadina Bekerjasama Dengan The Asia Foundation. Jakarta, dll.

*
[1] Bukhori – Muslim, Kitab jamiush Shahis, hadist no 32

[2] Adian Husaini, Islam Liberal, Hal 4 – 7

[3] adian husaini, Islam liberal, hal 7 – 8

[4] Toto Tasmara, dajal dan simbol-simbol setan

[5] adian husaini, penyesatan opini



Sumber :
http://www.nahimunkar.com/menyibak-sepak-terjang-jaringan-islam-liberal-jil-di-indonesia/#sthash.PzrsKIQE.dpuf

Minggu, 09 Maret 2014

Erdogan Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki

Judul: Erdogan Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki

Penulis : Syarif Taghian
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
Cetakan : Pertama, Oktober 2012
Tebal : xv + 518 Halaman


DUNIA Arab kini dipengaruhi dua kekuatan penting yang mengambil peran besar dalam membantu kemerdekaan rakyat Palestina. Sikap tegas Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan dalam kasus kapal perdamaian Mavi Marmara, membuat mata tertuju pada Turki. Juga keberpihakan Mesir pada Palestina, juga membuat jalan bantuan ke negara itu terbuka.
Turki dan Mesir yang semula menjadi sekutu dekat Israel dan Amerika, kini tampil jadi pembela hak-hak rakyat Palestina. Satu keberanian yang tak sanggup dilakukan Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Negara Arab lainnnya.
Pembelaan terang-terangan yang dilakukan Turki, membuka mata dan telinga masyarakat internasional, bahwa Negara yang bergelar “The Sick Man in Europe” itu telah bangkit. Ia kini mampu bersikap tegas, di tengah hegemoni negara penjajah Israel dengan sokongan Amerika.
Lalu siapa Erdogan ? sepak terjangnya yang membuat kudeta tanpa senjata, telah melahirkan perubahan besar di dalam negeri dan membuat wibawa Turki meningkat di masyarakat dunia. Turki yang dulunya dikuasai rezim Attarturk dengan kebebasan gaya barat, perlahan dibawa ke kehidupan Islami.
Langkah Erdogan jelas mendapat tentangan besar anjing-anjing sekularisme yang biasa hidup mewah dengan menggerogoti uang rakyat. Sayang mereka tak lagi mendapat simpati, karena rakyat sudah bosan dengan kehidupan sekuler yang jauh dari nilai-nilai keislaman.
Perjalanan Erdogan ke posisi tampuk kekuasaan, bukanlah mudah. Karirnya bersinar saat menjadi Walikota Istanbul. Ia berhasil mengalirkan air ke rumah-rumah penduduk, setelah bertahun-tahun kesulitan air bersih.
Kota Istanbul yang kumuh dan jorok, menjelma jadi kota hijau nan bersih. Perhatian pada fakir miskin sangat tinggi, sehingga simpati rakyat pada Erdogan makin besar.
Kala berada di puncak ketenaran, pihak sekuler mencium gelagat tidak baik dalam diri Erdogan. Sepenggal puisi karya Ziya Gokalp akhirnya mengantarkan dirinya ke penjara. Erdogan di tuduh telah menjadi ancaman negara dan menjadi sumber perpecahan kelompok agama.
Dengan diiringi 500 mobil pendukungnya menjelang Idul Adha, Erdogan masuk dalam penjara. Sebelum itu ia berpesan, agar para pendukungnya tidak melancarkan aksi protes. Ia minta mereka dewasa dengan cara memberikan suara di bilik-bilik pemungutan suara.
Dari penjara, Erdogan kemudian menyusun kekuatan baru dalam perpolitikkan di Turki. Ia memperkenalkan dirinya sebagai sosok moderat, tak lagi militan seperti sebelumnya. Tepat pula saat itu, Partai Refah dibubarkan pihak militer, karena dianggap ancaman bagi kehidupan sekuler.
Membaca buku ini, sungguh terasi asik. Pembaca akan menjadi lebih mengenal sosok Erdogan, muadzin Istanbul penakluk sekularisme Turki. Apalagi bagi politikus beragama Islam, sosok erdogan bisa menjadi inspirasi dalam usaha menegakkan marwah negara di panggung dunia internasional. Jika ada kudeta tidak berdarah, itulah yang dilakukan Erdogan di Turki saat ini. Akhirnya, jilbab berdasarkan paham kebebasan sekularisme bisa kembali berada di jalan-jalan dan parlemen Turki. Senjata sekularisme yang menghargai kebebasan, digunakan dengan manis oleh Erdogan, untuk menghilangkan sekularisme secara perlahan-lahan. Buku ini menjadi sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Peresensi: Hendri Nova

Sumber : http://hendrinova.blogspot.com/2012/12/erdogan-sang-penakluk.html

RESENSI BUKU "AYAH... KISAH BUYA HAMKA"

Judul Buku                               : Ayah... Kisah Buya Hamka
Pengarang                               : Irfan Hamka
Penerbit                                  : Republika Penerbit
Tahun Terbit                             : 2013
Tempat Terbit                           : Jakarta
Tebal                                       : xxviii + 324 halaman

Saudara Irfan Hamka, putra kelima dari sepuluh bersaudara putra-putri Buya H. Abdul Malik Karim Amrullah (7 laki-laki, 3 perempuan), dalam usia 70 tahun ingin menerbitkan kembali sebuah buku dengan judul, Ayah...
Dalam buku ini, saudara Irfan tidak membahas Buya Hamka sebagai ulama, sastrawan, cendekiawan, atau pemimpin masyarakat, tetapi mengenang beliau sebagai manusia yang dicintai istri, anak-anak, keluarga, murid-murid, dan sahabat-sahabatnya. Kenang-kenangan sepanjang 33 tahun yang penuh peristiwa menarik itu dimulai sejak dari dia berusia 5 tahun (1948, zaman agresi II) sampai 1981, tahun wafat Buya Hamka. Melalui sudut pandang ini, dimensi pribadi Buya Hamka lebih kita kenal akrab jadinya.
Buku ini dimulai dengan mengenang tiga nasihat Buya Hamka yang disampaikan baik kepada jemaah di pengajiannya atau yang secara khusus datang ke rumah. Lalu, rentetan peristiwa saat saudara Irfan masih kecil mulai dari ayahnya sebagai pejuang, pindah ke Jakarta, mengajari anak-anaknya mengaji, hingga metode Buya menurunkan ilmu silat kepada Irfan, dikisahkan dengan rinci dan memikat yang ternyata kelak akan sangat terpakai di zaman runtuhnya Orde Lama, sehingga Irfan terpilih menjadi Komandan Batalyon DI Panjaitan, Laskar Arif Rahman Hakim dari Angkatan 66.
Cerita berlanjut dengan rekaman pengalaman perdamaian dengan makhluk halus yaitu jin, yang bukan main-main. Kemudian disusul cerita perjalanan Buya Hamka naik haji dengan kapal laut Mae Abeto (1968), lalu perjalanan darat Baghdad-Mekkah dengan mobil sepanjang 6.000 kilometer yang sungguh mendebarkan.
Yang mengharukan pula adalah kisah-kisah Ummi Hj. Siti Raham bin Rasul St. Rajo Endah (istri Buya Hamka) dengan anak-anak dan keluarga. Dikisahkan pula bagaimana kebiasaan Buya membaca buku dan menulis karangan, serta interaksi dengan umat dan jemaah masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, yang waktu itu baru selesai didirikan. Kita akan membaca tentang penahanan paksa Buya selama 2 tahun 4 bulan, yang merupakan fitnah politik PKI yang keji tanpa bukti (1964), dan bagaimana Buya menghadapinya. Kisah mengimami shalat jenazah Bung Karno serta mengantarkan jenazah Mohammad Yamin ke Talawi sangat mengharukan kita.
Tidak lupa juga diselipkan cerita kucing berbulu kuning yang setia dan sangat disayang di rumah sampai kucing tersebut menjadi gaek berumur seperempat abad, dan kelihatan termenung sedih ketika jenazah Buya dibawa ke pemakaman.
Saya menyampaikan ucapan selamat kepada adinda Irfan Hamka dengan terbitnya buku ini. Semua yang dituliskan adinda Irfan ini mengukuhkan kesimpulan kita betapa Buya berjiwa besar, pemaaf, dan berlapang dadanya beliau, sehingga pantas kita teladani.
Ayah saya, A. Gaffar Ismail, teman sekelas Buya di Sumatera Thawalib, Parabek, Bukittinggi. Nama panggilan Buya waktu itu Malik, belum haji belum lagi Hamka. Di perguruan beliau dikenal sebagai putra ulama terkenal Buya “Dotor” (dalam bahasa Minang huruf “k”nya tidak dibaca) Karim Amrullah dari Maninjau, sehingga statusnya sebagai santri, tinggi. Buya A. Karim Amrullah adalah tokoh Indonesia pertama yang menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar (universitas tertua di dunia) pada tahun 1926, berdua dengan Buya Abdullah Ahmad dari Padang. Tokoh ketiga adalah Etek Rahmah El Yunusiah dari Diniyah Putri Padang Panjang pada tahun 1957. Doktor Honoris Causa keempat adalah Buya Hamka pada tahun 1961. Dalam sejarah Al-Azhar di Cairo, ayah dan anak mendapat gelar Doktor Honoris Causa barulah dari Indonesia. Malik dua tahun lebih senior dari ayah saya, dan senioritas di Parabek dihargai.
Malik, yang terkenal bengal, pada suatu hari memanggil ayah saya, yang disuruh memejamkan mata. Sang junior itu tentu patuh memicingkan matanya. Malik senior menggosok-gosok telunjuk ke leher, mengumpulkan daki di ujung jarinya. Sang junior disuruh membuka mulut. Ayah saya membuka mulut, mata masih tetap terpicing. Malik memasukkan daki sebesar butir beras ke dalam mulut yang ternganga itu.
Itulah cerita favorit ayah saya 30-an tahun kemudian di Pekalongan kepada saya dan adik-adik saya tentang sahabatnya itu. Ayah saya, yang diusir Belanda dari Minangkabau di tahun 1933 karena keaktivan politik di PERMI, menetap mengajar di Pekalongan, sampai wafat di tahun 1998, dalam usia 87 tahun. Di Minang beliau disebut Buya, di Pekalongan mendapat julukan Kiyai. Buya Hamka wafat di tahun 1981 di Jakarta, dalam usia 73 tahun.
Ketika kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Bogor (1957-1963) saya mulai menulis, lama-lama produktif, di Siasat, Kisah, Mimbar Indonesia, Panji Masyarakat, Gema Islam, dst. Pada suatu tahun, lupa saya persisnya, saya datang ke kantor Panji Masyarakat, mengenalkan diri kepada Buya Hamka. Buya senang sekali, melihat anak temannya sekolah di Parabek dulu menulis majalah yang beliau pimpin. Beliau menunjukkan simpati, apalagi saya suka sastra. Saya berkenalan dengan putranya Rusjdi, yang kuliah di Fakultas Sastra.
Sebuah Insiden menarik terjadilah. Saya menerima kiriman poswesel dari majalah itu untuk honorarium artikel yang tidak pernah saya tulis. Uang itu dikirimkan kepada seorang penulis, seorang mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Sejarah UGM, nama depannya mirip dengan nama saya, yaitu Taufik Abdullah, yang dieja dengan huruf k. Nama saya dieja dengan huruf q. Poswesel yang seharusnya dikirim tata usaha majalah di Yogya, salah kirim ke Bogor. Belakangan saya ceritakan salah kirim ini kepada sahabat saya Taufik Abdullah, yang menjadi ketua LIPI. Saya minta itu direlakan saja, jangan pula saya dituntut di akhirat nanti. Seingat saya, dia setuju, alhamdulillah.
Tentu perlu dicatat pula, bahwa kekeliruan tata usaha ini buka karena saya anak dari Kiyai A. Gaffar Ismail, kawan baik Buya Hamka di Parabek dulu.
Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) merupakan periode sangat kacau dalam sejarah kita. Presiden Soekarno membubarkan Majelis Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakyat yang diplih secara demokratis, jujur, damai, tak ada penipuan perhitungan suara dan sebagai gantinya membentuk yang baru tanpa pemilihan umum lalu dia sendirian menunjuk anggota-anggotanya. Oposisi dibungkam dengan membubarkan Partai Masyumi dan PSI. Koran-koran tak sehaluan dengan pemerintah diberangus, antara lain Indonesia Raya, Abadi, dan Pedoman.
Ditetapkanlah garis politik baru pemerintah, yaitu Demokrasi Terpimpin. Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pecah. Bung Hatta yang tidak setuju garis politik baru tersebut, mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Presiden Soekarno menjadi presiden seumur hidup, dengan demikian lengkaplah kediktatorannya. Sejumlah tokoh pers dan politik yang berseberangan, masuk tahanan tanpa proses pengadilan. Buku-buku yang tak sesuai dengan haluan pemerintah, dilarang. Di Jakarta, dan Surabaya, berlangsung pembakaran buku.
Ekonomi rakyat morat-marit. Bahan makanan pokok dicatu dan sukar diperoleh bebas di pasar. Inflasi membubung tinggi, pada puncaknya mencapai 650%, yang tidak pernah terjadi dalam sejarah ekonomi Indonesia, maknanya, harga naik setiap hari. Kemelaratan menjadi-jadi, secara visual tampak kasat mata merata di mana-mana. Hama pertanian meruyak, panen padi gagal, dengan akibat wabah kelaparan. Di beberapa tempat, seperti Gunung Kidul, rakyat mati akibat kelaparan setiap hari. Penduduk desa, yang sawah-sawahnya gagal panen, migrasi ke kota besar sebagai peminta-minta. Pengemis, diperkirakan berjumlah antara 5.000-10.000 orang masuk menyebar ke ibu kota.
Keadaan chaos atau luar biasa berantakan seperti ini, adalah situasi yang sangat ideal bagi pengusung Marxisme-Leninisme-Maoisme, dengan wadah partai mereka, di Indonesia bernama PKI, untuk mencapai tujuan utama ideology mereka, yaitu merebutkan kekuasaan dengan kekerasan, sebagaimana digariskan dengan sangat jelas dalam “Kitab Suci” Manifesto Komunis (Mark & Engles, 1848, terbitan Verso, London, 1988, halaman 77).
PKI dua kali berontak di Indonesia (1926 dan 1948), dua kali gagal. Untuk berontak atau kudeta ketiga kalinya, mereka tidak mau gagal lagi. Masa Demokrasi Terpimpin, 1959-1965 adalah periode sangat ideal bagi mereka mempersiapkan dari untuk itu.
Persiapan dilakukan di seluruh lini. Lini politik, ekonomi, sosial (buruh, tani, pemuda, wanita, mahasiswa, pelajar), militer, pendidikan, dan seni-budaya, seluruhnya digarap dengan rencana terperinci, yang akhirnya akan mengerucut pada kudeta 1 Oktober 1965.
Di bidang seni-budaya, organisasi massa atau ormas PKI yang diserahi tanggung-jawab dalam hal ini adalah Lembaga Kebudayaan Rakyat, disingkat Lekra. Lekra tidak berkiprah sendirian. Dua sekutu utamanya adalah Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), ormas PNI, dan Lembaga Seni Budaya Indonesia (Lesbi), ormas Partindo. Penggarapan ideologisnya adalah penerapan Marxisme-Leninisme-Maoisme dalam seni melalui faham realisme sosialis, yang dipaksakan kepada seniman-seniman non-komunis. Penggarapan praktis sehari-hari adalah melakukan berbagai kegiatan yang mendukung terlaksananya kudeta jangka panjang. Salah satu di antaranya adalah pembentukan opini di media massa, terutama surat kabar.
- See more at: http://inspirasi.co/forum/post/3731/resensi_buku_ayah_kisah_buya_hamka#sthash.qu6LPvmN.dpuf

Senin, 03 Maret 2014

"Mengabdi di Negeri Pelangi", Buku Terbaru Indonesia Mengajar

Mengabdi di ujung-ujung republik tak melulu identik dengan kemiskinan, keterbelakangan, minimnya fasilitas, atau parahnya infrastruktur. Pengajar Muda menyaksikan bahwa di sana, masih banyak hal yang dapat membuat senyum merekah dan membuat kita lebih optimis memandang Indonesia.



Sebagian Pengajar Muda kemudian menuliskan cerita-cerita tersebut ke dalam buku, salah satunya adalah buku Mengabdi di Negeri Pelangi. Kumpulan tulisan Pengajar Muda terbitan Kompas ini sudah beredar di toko buku sejak 29 Oktober 2013.

Buku ini mengajak kita untuk mengintip kehidupan yang sering kali luput dari jangkauan kesadaran, karena tenggelam dalam rutinitas kota besar.

Fatia Qanitat adalah salah satu Pengajar Muda yang turut menyumbang tulisan di dalam buku tersebut. Fatia adalah Pengajar Muda angkatan I yang sempat mengabdikan diri di Kabupaten Bengkalis.

"Perbedaan itu niscaya. Tetapi, perbedaan tidak selalu mudah diterima," tutur Fatia dalam paragraf pembuka tulisannya. Dalam Mengabdi di Negeri Pelangi, Fatia menuliskan tentang pengalamannya menyaksikan pengaruh perbedaan suku terhadap perilaku antarsiswa di Bantan Air.

Kumpulan kisah yang ada di dalam buku tersebut juga menjadi salah satu cara Indonesia Mengajar dalam menyampaikan cerita dampak dari gerakan ini.

Bagi Indonesia Mengajar, buku tersebut tak hanya berperan sebagai sebuah bacaan. Sebagaimana buku lainnya, kisah-kisah Pengajar Muda yang dikumpulkan dan kemudian dibukukan seperti itu, juga menjadi salah satu cara Indonesia Mengajar dalam menyampaikan cerita dampak dari gerakan ini.

Buku tersebut sudah bisa didapatkan di toko buku terdekat maupun toko buku daring.

Sumber :
https://indonesiamengajar.org/kabar-terbaru/mengabdi-di-negeri-pelangi-buku-terbaru-indonesia

Selasa, 28 Januari 2014

Resensi Buku : Karya Fenomenal Imam Ibnu Qayyim Al jauziah Tentang Hati dan Cinta


hati al jauzy
Suatu hari dihadapkanlah kepada Ibnu Abbas seorang pemuda kurus kering hingga tampak seperti tulang berbalut kulit, beliau pun bertanya,”Ada apa gerangan dengan pemuda ini? Orang orang menjawab ,” Ia sedang dilanda mabuk cinta,” Lantas Ibnu Abbas segera memohon perlindungan pada Allah dari “Mabuk Cinta” sepanjang umurnya.

Ishaq bin Ibrahim berkata :

“Ruh orang orang yang mencintai itu wangi nan lembut. Badan mereka tipis dan ringan . Hiburan mereka adalah persahabatan . Kata kata mereka menghidupkan hati dan menambah kecerdasan akal . Kalau saja bukan karena cinta , tentu kenikmatan dunia ini tidak ada lagi.”

Cinta, sesuatu yang bermula dari hati, apabila ia dikelola dengan cara yang benar , tentunya akan mengantarkan pemiliknya menuju kebahagiaan . Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, tentu ia akan menyeret pemiliknya menuju kehancuran.

Al Jawabul Kafi : Solusi mengatasi masalah hati, sebuah kitab fenomenal karya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah, seorang ulama, pakar masalah hati, ahli tafsir, ahli hadits, dan sederet ilmu syar’I lainnya yang tidak dapat diragukan lagi kedalaman dan keluasan ilmunya. Seperti judulnya, buku ini akan memandu pembaca mengelola hati dengan lebih baik. Dilengkapi contoh contoh berbagai permasalahan hati dan tentunya tak lupa solusi untuk mengobatinya.
Ingin membaca lebih lanjut…silahkan memesan dan memiliki buku tersebut…

Judul buku : Al Jawabul Kafi
Penulis : Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah
Penerbit : Al Qowam

Sumber: http://www.eramuslim.com/resensi-buku/resensi-buku-karya-fenomenal-imam-ibnu-qayyim-al-jauziah-tentang-cinta.htm

Jumat, 10 Januari 2014

Resensi Buku : Erdogan , Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki


erdogan 1111

Recep Tayyip Erdogan adalah politisi yang dijuluki sebagai “Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki”. Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan.

Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa “Islam adalah Solusi” (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “the Sick Man in Europe” menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.

Dengan kesantunannya, Erdogan mampu menumbangkan “berhala sekularisme Attaturk” tanpa melakukan kudeta dan melesatkan peluru sebutir pun. Sekularisme yang disucikan oleh militer, dan dijaga oleh kekuatan senjata, mampu ditumbangkan dengan ‘kudeta tanpa senjata’ oleh Erdogan. Keraguan kelompok sekular Turki yang menyebut Erdogan sebagai sosok “islamis reaksioner” dijawab olehnya dengan kerja nyata dalam mensejahterakan rakyat Turki dan menjadikan negaranya sebagai kekuatan penyeimbang dalam kancah globalisasi. Erdogan mampu membawa Turki menjadi negara dengan stabilitas ekonomi yang kuat, mandiri, dan mampu bersaing di dunia internasional.

Erdogan adalah contoh politisi dan pemimpin yang tidak larut dalam kekuasaan, sehingga melupakan identitas keislamannya. Jejak rekamnya dalam membela kaum muslimin yang tertindas, terutama di Palestina, sudah tidak diragukan lagi. Ketika kekuasaan sudah di tangan, maka tak ada alasan untuk tidak berkhidmat pada Islam. Inilah teladan dari sosok Erdogan

Penerbit : Kautsar

Sabtu, 14 Desember 2013

Sokola Rimba


Film ini mengajarkan kita akan pentingnya pendidikan bagi masa depan seseorang. Banyak masyarakat di pedalaman yang belum mendapat akses pendidikan yang layak sampai-sampai mereka menganggap pendidikan adalah hal yang dapat membawa bencana.

Beginilah alur cerita film ini :
Butet Manurung (Prisia Nasution) bekerja di sebuah lembaga konservasi di wilayah Jambi selama hampir 3 tahun. Disinilah ia telah menemukan cita-cita dalam hidupnya yaitu mengajarkan baca tulis dan menghitung kepada anak - anak suku anak dalam atau yang lebih dikenal sebagai Orang Rimba.

Suku ini tinggal di hulu sungai Makekal di hutan bukit Duabelas. Suatu hari Butet terkena penyakit malaria di tengah hutan, seorang anak tak dikenal datang menyelamatkannya. Anak itu bernama Nyungsang Bungo. Ia berasal dari Hilir sungai Makekal, yang berjarak sekitar 7 jam perjalanan untuk bisa mencapai hulu sungai, tempat Butet mengajar.

Secara sembunyi-sembunyi, Bungo telah lama memperhatikan cara Butet mengajar membaca. Ia membawa kertas perjanjian yang telah di 'cap jempol' oleh kepala adatnya, sebuah surat persetujuan orang-orang desa mengeksploitasi tanah adat mereka.

Bungo ingin belajar membaca dengan ibu guru Butet agar dapat membaca surat perjanjian itu. Pertemuan dengan Bungo menyadarkan Butet agar memperluas wilayah kerjanya ke arah hilir sungai Makekal. Namun keinginannya itu tidak mendapatkan restu dari tempatnya bekerja, maupun dari kelompok rombong Bungo yang masih percaya bahwa belajar baca tulis bisa membawa malapetaka bagi mereka. Butet mencari segala cara agar ia bisa tetap mengajar Bungo, hingga malapetaka yang ditakuti oleh Kelompok Bungo betul-betul terjadi. Butet terpisahkan dari masyarakat Rimba yang dicintainya. Dapatkah ia kembali?

Produser, Sutradara, dan Pemain Film Sokola Rimba (2013)
Produser : Mira Lesmana
Sutradara : Riri Riza
Aktor dan Aktris : Prisia Nasution, Rukman Rosadi, Nadhira Suryadi, Nyungsang Bungo, Nengkabau

99 Cahaya di Langit Eropa

Buku ini adalah catatan perjalanan atas sebuah pencarian. Pencarian cahaya Islam di Eropa yang kini sedang tertutup awan saling curiga dan kesalahpahaman. Untuk pertama kalinya dalam 26 tahun, aku merasakan hidup di suatu negara dimana Islam menjadi minoritas. Pengalaman yang makin memperkaya spiritualku untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda. 

Tinggal di Eropa selama 3 tahun adalah arena menjelajah Eropa dan segala isinya. Hingga akhirnya aku menemukan banyak hal lain yang jauh lebih menarik dari sekedar Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion Sepakbola San Siro, Colloseum Roma, atau gondola gondola di Venezia. Pencarianku telah mengantarkanku pada daftar tempat-tempat ziarah baru di Eropa. Aku tak menyangka Eropa sesungguhnya juga menyimpan sejuta misteri tentang Islam. 

Eropa dan Islam. Mereka pernah menjadi pasangan serasi. Kini hubungan keduanya penuh pasang surut prasangka dengan berbagai dinamikanya. Aku merasakan ada manusia-manusia dari kedua pihak yang terus bekerja untuk memperburuk hubungan keduanya.

Pertemuanku dengan perempuan muslim di Austria, Fatma Pasha telah mengajarkanku untuk menjadi bulir-bulir yang bekerja sebaliknya. Menunjukkan pada Eropa bulir cinta dan luasnya kedamaian Islam. Sebagai Turki di Austria, Ia mencoba menebus kesalahan kakek moyangnya yang gagal meluluhkan Eropa dengan menghunus pedang dan meriam. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan lebarnya senyum dan dalamnya samudra kerendahan hati.

Aku dan Fatma mengatur rencana. Kami akan mengarungi jejak-jejak Islam dari barat hingga ke timur Eropa. Dari Andalusia Spanyol hingga ke Istanbul Turki. Dan entah mengapa perjalanan pertamaku justru mengantarkanku ke Kota Paris, pusat ibukota peradaban Eropa.

Di Paris aku bertemu dengan seorang mualaf, Marion Latimer yang bekerja sebagai ilmuwan di Arab World Institute Paris. Marion menunjukkan kepadaku bahwa Eropa juga adalah pantulan cahaya kebesaran Islam. Eropa menyimpan harta karun sejarah Islam yang luar biasa berharganya. Marion membukakan mata hatiku. Membuatku jatuh cinta lagi dengan agamaku, Islam. Islam sebagai sumber pengetahuan yang penuh damai dan kasih.

Museum Louvre, Pantheon, Gereja Notre Dame hingga Les Invalides semakin membuatku yakin dengan agamaku. Islam dulu pernah menjadi sumber cahaya terang benderang ketika Eropa diliputi abad kegelapan. Islam pernah bersinar sebagai peradaban paling maju di dunia, ketika dakwah bisa bersatu dengan pengetahuan dan kedamaian, bukan dengan teror atau kekerasan

Perjalananku menjelajah Eropa adalah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan oleh Islam di benua ini. Cordoba, Granada, Toledo, Sicilia dan Istanbul masuk dalam manifest perjalanan spiritualku selanjutnya.

Saat memandang matahari tenggelam di Katedral Mezquita Cordoba, Istana Al Hambra Granada, atau Hagia Sophia Istanbul, aku bersimpuh. Matahari tenggelam yang aku lihat adalah jelas matahari yang sama, yang juga dilihat oleh orang-orang di benua ini 1000 tahun lalu. Matahari itu menjadi saksi bisu bahwa Islam pernah menjamah Eropa, menyuburkannya dengan menyebar benih-benih ilmu pengetahuan, dan menyianginya dengan kasih sayang dan toleransi antar umat beragama.

Akhir dari perjalananku selama 3 tahun di Eropa justru mengantarkanku pada titik awal pencarian makna dan tujuan hidup. Makin mendekatkanku pada sumber kebenaran abadi yang Maha Sempurna.


Aku teringat kata sahabat Ali RA:
Wahai anakku! Dunia ini bagaikan samudra di mana banyak ciptaan ciptaan Nya yang tenggelam. Maka jelajahilah dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkanlah keimanan sebagai layarmu, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu; dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan.(Ali bin Abi Thalib RA)





Jumat, 06 Desember 2013

Resensi Buku Tarbiyah Madal Hayah




Judul Buku : Tarbiyah Madal Hayah
Penulis : Asri Widiarti
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 1
Tahun Terbit : Jumadil Ula 1431 H/April 2010
Tebal Buku : xxii + 170 halaman

"Kalau saja selingkuh itu ada obatnya, aku yakin, pasti akan laris manis di pasaran. Banyak yang membutuhkan dan mau membayar banyak untuk mendapatkannya. Sebagai seorang ibu, aku pun akan menyimpannya di rumah, kutaruh di dalam stoples, kujaga hati-hati. Kalau ada yang datang dan membutuhkannya aku akan membaginya secara gratis agar mereka mendapatkan ketenangan usai mereka bertemu dan masuk ke rumahku."

Demikian paragraf awal dari salah satu kisah dalam buku Tarbiyah Madal Hayah yang diberi judul "Penyakit itu Bernama Selingkuh".

Buku Tarbiyah Madal Hayah ini adalah buku keenam dari 100 buku pengokohan tarbiyah. Berbeda dari kelima buku sebelumnya, buku ini berisi kisah-kisah tarbiyah tanpa diuraikan hikmahnya. Pembacalah yang harus memetik hikmahnya sendiri. Persis seperti Chicken Soup. Dan ia memang dinamakan Chicken Soup for Tarbiyah. Demikian tertera di bawah judul pada cover buku ini. Hanya saja, di dalam buku ini dipakai beberapa nama samaran dan penulis (Asri Widiarti) berpesan dalam kata pengantar: "Naskah yang penulis tulis ini anggap saja sebuah kumpulan kisah imajinatif yang (semoga saja) bisa diambil 'ibrah (pelajaran). Tak usah dicari-cari siapa tokohnya, kapan kejadiannya, di mana tempat terjadinya..."

Ada 18 kisah yang dibagi menjadi 3 bagian dalam buku ini. Bagian pertama bertajuk "Allah Sayang Kamu". Bagian kedua bertajuk "Bunda, Allah Mendengar Doamu". Dan terkahir "Allah tak Pernah Meninggalkanmu".

Melalui kisah-kisah ini kita (tepatnya sebagian dari kita yang belum pernah mengalami atau menjumpai) akan disadarkan betapa fenomena di lapangan tarbiyah begitu rumit dengan beragam permasalahan yang manusiawi.

Ada fenomena "ketidakcocokan" seorang bunda kepada calon menantunya. Dan ternyata keraguannya itu benar. Calon menantunya ternyata tidak jujur. Untung ia belum menyetujui pernikahan itu. Bagaimana strategi ibu memastikan ganjalan dalam hatinya terhadap calon menantunya itu secara lengkap bisa kita baca di kisah pertama: Ganjalan Hati yang Menjagai.

Kita juga akan disadarkan bahwa masuk dalam lingkaran tarbiyah bukanlah jaminan keshalihan bagi seorang ikhwan. Ada ikhwan yang begitu susah kita bayangkan bisa melakukan KDRT bahkan mengancam murabbinya dengan senjata tajam. Tapi itulah yang ada dalam kisah kedua: Samudra Maaf Milik Sang Istri. Sang Istri di akhir cerita meminta doa kita. Ia tengah menunggui suaminya itu yang kini sakit...

"Surat Cinta Muthi buat Ummu dan Abi" lain lagi. Ia adalah kisah yang mengingatkan kita betapapun sibuknya kita dalam dakwah ini, semoga tidak pernah melupakan buah hati. Harus ada keseimbangan. Harus ada waktu, perhatian, dan kasih sayang. Idealnya adalah taurits tarbawi "pewarisan tarbiyah". Bukan makin banyaknya kesimpulan anak: "Saya benci aktifitas seperti ini karena membuat anak-anak ditelantarkan orangtuanya". Akhirnya anak-anak aktifis dakwah justru menjadi "pemberontak" melalui kenakalannya, penyimpangannya...

Tidak semua kisah dalam buku ini membuat kita merasa "kecolongan". Kalaupun pada kisah pertama dan kedua kita belajar tentang ketidaksempurnaan yang harus diperbaiki dalam tarbiyah, dan itu tantangan bagi setiap murabbi dan aktifisnya, kita pun perlu dikuatkan dengan nilai-nilai kebaikan yang sudah mengakar. Agar ia tidak goyah, agar ia tidak berkurang. Siapapun kita, apapun peran kita...

Kisah kedelapan mengajarkan salah satu nilai itu. Dalam judul Harta tak Ternilai yang Disebut Ukhuwah, Yayuk merasakan nikmatnya ukhuwah itu. Saat ia sakit, para ikhwah yang merawatnya, bergantian. Mulai membawanya ke rumah sakit, sampai mengurus segala hal yang dibutuhkannya. Di akhir cerita ia mengakhiri dengan ungkapan indah ini: "Adakah orang yang tak ingin menghabiskan sisa umur hidupnya untuk isiqamah di jalan dakwah? Bukankah Allah sudah menyediakan balasannya di dunia, dan kelak di akhirat ada lagi balasan yang tidak terkirakan indra. Masihkah engkau ragu-ragu?"

Keseluruhan kisah dalam buku ini akhirnya membawa kita pada kesimpulan bahwa kita perlu belajar dari segala hal yang kita alami, segala hal yang kita dengar, kita baca, kita lihat... dan itulahtarbiyah madal hayah; tarbiyah sepanjang hidup.

Buku ini hanyalah salah satu stimulan untuk memantik kembali kepekaan kita sekaligus membangkitkan kembali kesadaran kita akan beragam fenomena yang terjadi dalam kehidupan nyata, yang boleh jadi belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Sesuai judulnya, Tarbiyah Madal Hayah. Semoga kita pun menjadi pembelajar seumur hidup kita, termasuk dari buku ini.[Muchlisin]


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites